Senin, 29 Maret 2010

LAFFEST2010 #6 : Review Film Nasional Pilhan "UNDER THE TREE"




Directed by GARIN NUGROHO written by GARIN NUGROHO, ARMANTONO cast MARCELLA ZALIANTY, DWI SASONO, IKRANAGARA, NADIA SAPHIRA, AYU LAKSMI, ARYANI KIERGENBURG WILLEMS released in 2008

Tiga orang perempuan : Maharani (Marcella Zalianty) pergi ke Bali untuk mencari tahu siapa ibu kandungnya yang seorang penari dan justru terjebak dalam sebuah praktek penjualan anak, Tian (Nadia Saphira) lari ke Bali karena malu akan ayahnya yang seorang koruptor, dan Dewi (Ayu Laksmi) yang sedang berada dilema antara mengaborsi atau melahirkan anaknya yang menderita otak mengecil dan hanya akan mampu hidup sebentar setelah dilahirkan. Ini adalah plot film ini. Sekarang silahkan lupakan plot tersebut. Film ini bukanlah film tentang plot. Ini adalah film yang menaruh fokusnya pada visual sebagai puisi dan metafora.

Saat JIFFEST 2009, ada beberapa hal yang diutarakan oleh Ikranagara yang menarik perhatian saya :

  1. Garin Nugroho adalah seorang post-modernis. Karyanya berisi metafora yang penerjemahannya terserah kepada penonton. (Saya sendiri lebih suka untuk tidak memikirkan apa artinya dan menerimanya apa adanya.)
  2. Saat membaca skrip, karakter yang dimainkan Ikranagara memiliki sebuah nama. Namun, pada saat film itu sudah selesai, nama karakternya adalah nama dirinya sendiri, Ikranagara.
  3. Saat shooting adegan Calonarang yang konon katanya bisa membunuh pemainnya yang memerankan Mayat, Garin hanya meletakkan 5 kamera di beberapa tempat. Ternyata terjadi peristiwa kesurupan dimana sang roh berpindah-pindah tempat dari satu badan ke badan lain. Ikranagara sendiri yang berperan sebagai Mayat dalam sendratari tersebut benar-benar dibawa ke sebuah kuburan dan ditinggal sendiri seperti layaknya pementasan sendratari sungguhan.
  4. Workshop film ini hanyalah seminggu. Saat shooting, Ikranagara merasa dialog antara dirinya dengan karakter Tian canggung karena perbedaan umur dan latar belakang yang terlalu jauh. Garin memutuskan unntuk membiarkannya saja.
  5. Begitu banyak perubahan dari skrip yang sudah deal dengan hasil film sampai Ikranagara sendiri tidak yakin harus berbicara apa saat diminta memberikan komentar di Tokyo International Film Festival. Saat itu, Ikranagara bahkan belum menonton filmnya.
Kesimpulan dari poin-poin tersebut adalah Garin adalah sutradara yang bekerja menggunakan insting. Mungkin benar kata Ikranagara, bahwa salah satu penyebabnya adalah karena Garin berangkat dari seorang sutradara film dokumenter. Ketika membuat film dokumenter, skrip hanya dijadikan sebagai kerangka saja. Namun, pada saat proses produksi, banyak hal yang biasanya berubah karena para pembuat film dokumenter harus bisa menangkap setiap momen yang tak mungkin bisa terulang lagi. Dengan insting inilah, Garin mampu bekerja dengan cepat dan tak terduga. Perkiraan saya adalah, Ia baru benar-benar tahu seperti apa filmnya akan terlihat saat proses editing dimulai dan Ia melihat seluruh footage yang ada. Saat shooting, Ia hanya ingin mendapatkan visual yang tepat dengan emosi dari filmnya.



Coba tengok beberapa adegan berikut :
  1. Maharani menari dengan gaya yang terlihat  kontemporer bersama dengan seorang penari pria Bali yang justru terlihat menarikan salah satu tarian tradisional Bali. Jarak dan angle kamera serta blocking dari pemain seakan pertanda adegan tersebut adalah persembahan mini untuk penonton dengan sebuah pesan tersimpan di dalamnya.
  2. Dewi mengupas telur sambil menyanyikan sebuah bait yang terus menerus diulang-ulang. Pada awalnya, tular dikupas dengan perlahan, namun seiring dengan nyanyiannya yang semakin emosional, Dewi pun melahap telur tersebut dengan kasar.
  3. Adegan Calonarang yang terasa sakral. Saya ingat ketika saya menoleh ke penonton di sekitar saya, semua terpaku dengan apa yang mereka lihat. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar kata "indah" untuk bisa mendeskripsikan pengalaman itu. Kata "magis" mungkin sudah cukup mendekati.
  4. Maharani yang sedang dipakaikan pakaian menari oleh karakter yang dimainkan Dwi Sasono. Adegan itu tampak menjurus ke arah seksual.
  5. Tian menutupi kepalanya dengan kardus setelah melihat berita tentang kasus korupsi yang menimpa ayahnya. Selang beberapa hari, ada sesuatu yang saya lihat di pinggir jalan di sebuah daerah saat pulang kampung ke Semarang. Saya melihat seorang Ibu melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Tian. Persis sama.
Dilihat dari poin-poin di atas, berbagai macam metafora yang ada di sebuah film post-modern sungguh akan lebih baik jika coba diterima apa adanya. Terkadang kita tidak perlu mengetahui segalanya untuk bisa mengatakan sesuatu itu indah.

Menonton film "Under The Tree" adalah sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Plotnya yang bertumpuk-tumpuk memang terrkadang susah diikuti. Belum lagi terkadang Garin banyak melakukan jumping pada ceritanya. Namun, ini memang karena semata-mata yang Garin inginkan bukanlah detail, melainkan momen. Saya belum pernah melihat karya sutradara Indonesia lain yang masih aktif yang mampu memperlihatkan ketajaman insting sutradaranya seperti film ini.





***
Tontonlah film pendek segmen "EKSPERIMEN VISUAL" pukul 9 malam WIB.
Pilih film pendek favorit kamu (boleh pilih lebih dari satu) di voting Film Pendek Favorit di sidebar sebelah kiri dan blog favorit kamu (boleh pilih lebih dari satu) di voting  Blog Film Favorit di sidebar sebelah kanan.
Kunjungi pula http://perfilman.pnri.go.id untuk menapak tilas sejarah perfilman Indonesia hingga detik ini.

***
Acara LAFFEST 2010 didukung oleh :

3 komentar:

  1. Wey, keren nih reviewnya.

    Sebagai seseorang yang menyukai film ini, Under the Tree memang terasa sangat personal bagi saya. Banyak sekali fragmen dan momen di tradisi bali yang ditampilkan dengan indah, sekaligus magis.

    Sekedar tambahan, konsep "pohon" yang ditujukan pada film ini sebenarnya secara filosofis: sebagai ibu yang meneduhi anak-anaknya. literal: mengacu pada pohon beringin yang sering ditampilkan di film ini, dimana di bali sendiri pohon beringin dianggap keramat dan menyimpan sisi magis. Disajikan fragmen Calonarang juga sebagai contoh seorang ibu (Calonarang merupakan penguasa ilmu hitam paling hebat) yang meskipun berhadapan dengan anaknya (anak calonarang di cerita asli mengalahkan ibunya sendiri) tetap mencintai anaknya sendiri entah apapun yang diperbuat. begitupun sebaliknya.

    Waktu saya menonton film ini, pas adegan Calonarangnya, saya merinding luar biasam beberapa penonton pun begitu, masalahnya sendiri di tradisi saya, kalau menonton Calonarang itu tidak dianjurkan untuk pulang sebelum acara selesai karena diyakini akan terjadi hal-hal negatif. Salut dengan Garin Nugroho yang berhasil menjadikanya senyata mungkin.

    BalasHapus
  2. @awya yap!salut utk Garin Nugroho. Salut utk kebudayaan Indonesia yg begitu unik2 dan sakral. :)

    BalasHapus
  3. oh..emang nggak ada plotnya toh, pantesan gw nggak mudeng ;P hihihi. Scene per scene nya emang bagus, banget, tapi gw emang kesulitan untuk mengait2 satu scene dengan yg lain...ternyata emang harusnya gak usah gitu yah hehehe

    bagian yg paling gw suka cuman yg ada Aryani Kriegenburg dan I Ketut Rina nya (bener gak yah?)...riil banget, berasa Bali nya, beda sama FTV Bali di SCTV ^o^;

    btw, ada yg merasa presentasi gambarnya di bioskop agak suram gak sih?

    BalasHapus