Jumat, 02 April 2010

Antara 2 Film : Keramat dan Paranormal Activity



"Keramat" karya Monty Tiwa dan "Paranormal Activity" karya Oren Peli sering sekali dibicarakan tahun lalu karena sama-sama merupakan keturunan "The Blair Witch Project" karya Daniel Myrick dan Eduardo Sanchez yang di-release tahun 1999. Banyak diskusi yang membahas film yang mana yang lebih baik. Sebelum kita memulai untuk membahasnya, mari kita mulai dengan melihat kembali film "The Blair Witch Project". Film tersebut adalah sebuah film indie yang sangat terkenal karena berhasil membuat film horror tampak nyata dan tidak imajinatif seperti pendahulu-pendahulunya. Konsep visualnya adalah seperti layaknya film dokumenter dengan menggunakan kamera hand-held. Untuk menambah kesan nyata, nama karakternya dibuat sama dengan nama pemerannya. Kesuksesan film ini pun, baik secara kualitas maupun komersil, telah menginspriasi banyak filmmaker sampai saat ini.



Di tahun lalu, film "Keramat" dan "Paranormal Activity" ternyata mengikuti rumusan yang sama dengan film "The Blair Witch Project". Keduanya menggunakan karakter-karakter bernama sama dengan pemerannya dan sama-sama tidak menggunakan skenario. Film "Keramat" dianggap sebagai film maindstream di Indonesia dengan memakan budget sampai satuan miliar rupiah, sedangkan film "Paranormal Activity" adalah film independent yang memakan biaya sekitar USD 15,000. Jika dirupiahkan, budget tersebut sekitar 150 juta. Sekarang mari kita lihat film mana yang berhasil memanfaatkan budget mereka dengan efektif.


IDE CERITA
Film "Keramat" menceritakan tentang sekelompok orang yang melakukan shooting di Yogyakarta. Namun, ternyata salah seorang dari aktrisnya kesurupan, lalu tiba-tiba menghilang. Seorang paranormal mengatakan bahwa aktris tersebut telah dibawa pergi ke alam lain, maka mereka semua pun berusaha untuk menyelematkan si aktris tersebut. Keseluruhan film diambil dengan kamera POV dari seorang kameraman untuk Behind The Scene. Di lain pihak, film "Paranormal Activity" bercerita tentang sepasang kekasih yang tinggal serumah. Sang wanita mengaku pernah dianggu oleh makhlus halus sebelumnya saat masih kecil dan ternyata gangguan-gangguan itu datang kembali saat Ia tinggal bersama kekasihnya. Keseluruhan film diambil dari sebuah kamera yang dibeli oleh sang pria. Banyak adegan yang diambil dengan kamera POV dan dari sebuah tripod. Untuk pengemasan ide cerita, Oren memutuskan untuk membuat film "Paranormal Acitivity" seperti layaknya rekaman yang ditemukan dengan tidak adanya opening dan closing credits. Ide erita dari kedua film ini saya rasa sama-sama bagus dan memiliki tantangan-tantangan tersendiri dalam hal pengeksekusiannya.


VISUAL DAN KAMERA POV
Saat menonton kedua film ini, tentu penonton bertanya-tanya kenapa kedua film ini di-shot dengan dominasi kamera POV dan filmmakernya pun harus menyiapkan alasan agar bisa diterima oleh penontonnya. Dalam film "Keramat", sang kameraman mengatakan bahwa Ia bekerja untuk terus merekam apa pun yang terjadi sebagai alasan untuk terus merekam. Di sebuah hutan di "dunia lain", alasan Ia terus merekam adalah karena cahaya dari kameranya merupakan satu-satunya penerangan yang jelas. Sedangkan dalam film "Paranormal Activity", alasan sang pria adalah karena Ia begitu penasaran ingin bisa menangkap fenomena-fenomena aneh ini dengan kameranya dan pasti bisa mengusir makhlus halus yang mengganggu di rumahnya.


Melihat alasan yang telah saya jabarkan, film "Keramat" memang memiliki alasan yang lebih mudah diterima. Hal ini dikarenakan film "Paranormal Activity" yang hanya memiliki setting di sebuah rumah tentu akan menimbulkan beberapa pertanyaan "Kenapa mereka begini dan tidak melakukan itu?". Untuk menghilangkan pertanyaan tersebut, Oren membuat apa yang terjadi pada kedua karakter utamanya merupakan sebuah takdir yang tidak bisa mereka hindari.

One of the shots from "Paranormal Activity"


MAKHLUK HALUS DAN SUSPENSE
Film "Keramat" menampilkan sosok-sosok makhluk halus secara lebih eksplisit dibandingkan dengan film "Paranormal Activity". Ketika kita melihat kemunculan setan di sebuah film, biasanya kita dibuat takut atau kaget atau jijik atau dua diantarnya atau ketiga-tiganya. Di dalam film "Keramat", sosok makhlus halus tersebut membuat kita kaget. Hanya ada satu adegan yang menampilkan pocong di hutan yang membuat banyak orang kaget dan takut. Di sisi yang berlawanan, film "Paranormal Activity" menembus langsung ke urat saraf imajinasi kita dengan tidak menampilkan sosok makhluk halus.


Saya familiar sekali dengan kejadian-kejadian gaib yang terjadi dalam film "Keramat" dan "Paranormal Activity". Di rumah Nenek saya di Semarang, saya pernah melihat sesosok layaknya bayangan namun begitu solid berjongkok di atas tembok halaman belakang. Sosok itu sama persis dengan deskripsi yang diutarakan sang wanita dalam "Paranormal Activity" saat dia membicarakan sebuah sosok yang pernah dilihatnya saat masih kecil. Selain itu, Nenek saya sendiri pernah melihat ada sekumpulan api terbang seperti yang dapat dilihat di film "Keramat".


Untuk poin makhluk halus, saya harus akui "Paranormal Activity" jauh lebih unggul. Alasan saya adalah karena kita diajak untuk mengenal terlebih dahulu tentang sifat dan tingkatan gangguan yang bisa dihadirkan oleh si makhluk halus tersebut. Efeknya sama seperti setelah kita mendengarkan cerita hantu dari teman atau saudara. Kita menjadi membayangkan sosok itu. Film "Keramat" yang membuat penonton kaget terlebih dahulu ternyata keteteran dalam membuat ketegangan yang berarti. Adegan menghilangnya satu per satu kru di sebuah pantai dan kemunculan si pocong cukup apik namun tidak membantu tone dari seluruh film.


Film horror yang ingin dianggap bagus diwajibkan untuk membuat takut penontonnya. Beberapa film horror justru membuat kita takut karena makhluk halus/setan/hantu yang kita lihat atau tidak kita lihat dalam film-film itu memiliki karakter yang kuat untuk membuat kita takut kepadanya. Sebagai contoh, setan dalam film "The Exorcist" karya William Friedkin membuat kita takut karena begitu vulgarnya Ia menunjukkan caranya dalam menjatuhkan hati nurani manusia. Selain itu, tentu make up dan efek yang membuat sosok setan itu sangat menjijikkan berhasil membuat kita tidak melupakan sosoknya.


PLOT, ENDING DAN KARAKTER
Sungguh amat sangat disayangkan sekali plot film "Keramat" berakhir seperti salah satu cerita pendek di majalah Misteri. Para karakter ternyata pindah ke dunia lain. Mereka masuk ke dalam sebuah hutan dan mereka mengalami gangguan-gangguan yang jauh lebih ekstrem. Saya sendiri tidak pernah mendengar tentang kisah orang yang awam akan dunia gaib bisa masuk ke dalamnya. Terlebih lagi jika orang-orangnya banyak. Pada saat ini, film "Keramat" memasukkan diri dalam dunia horror amat sangat terlalu awal. Gangguan apa pun yang terjadi dalam hutan itu, saya merasa sulit untuk bisa menerimanya. Terlebih lagi ketika karakter-karakter yang telah dibuat makin ditampilkan kebodohannya.


Saya sempat menanyakan perihal mengapa di ending film di mana yang selamat hanyalah Migi, Poppy, dan Sadha di JIFFEST 2009. Jawabannya adalah karena mereka adalah orang-orang yang hidupnya go with the flow dan tidak ambisius seperti karakter-karakter yang tidak selamat. Saya amat sangat tidak bisa menerima alasan ini karena tampak seperti sebuah penyederhanaan yang menggelikan. Selain itu, di ending kita melihat bahwa kamera sudah ditinggalkan di sebuah hutan dan akan terjadi gempa bumi tidak lama setelahnya. Maka, sudah hilanglah logika pemakaian kamera POV untuk narasi karena kamera dan rekamannya kemungkinan besar hilang. Film "Keramat" sudah kehilangan kecerdasannya sama sekali tepat di ending film.


Di sisi yang berlawanan, "Paranormal Acitivity" menyampaikan plot dan karakternya dengan smooth. Karakter sang pria semakin jadi menarik ketika obsesinya semakin besar dan entah kenapa kita membiarkannya meskipun kita tahu itu adalah sebuah kesalahan. Karakter wanita juga tampak rasional dalam menanggapi situasi dan juga emosi dari pacarnya. Tepat di saat pertanyaan "Kenapa mereka seperti dipaksakan untuk terus dihantui di dalam rumah?", klimaks film pun hadir. Setelah serangkaian adegan gangguan-gangguan yang saya terima dengan sangat baik (baca: takut), datanglah klimaks yang saya efektif namun diakhiri dengan kurang bagus, namun bagi beberapa orang cukup membayar rasa penasaran mereka. Ending yang saya maksud adalah ending dimana sang wanita menatap ke kamera dan wajahnya berubah menjadi menyeramkan. Sedangkan, untuk ending yang versi lain, yaitu sang wanita berdiam diri sampai akhirnya di tangkap polisi, tidaklah saya tonton. Namun, jika harus memilih, tampaknya saya lebih setuju dengan ending yang kedua karena pembunuhan yang dilakukan terhadap sang pria itu sendiri saya rasa sudah cukup jauh dan tidak perlu dilebih-lebihkan lagi dengan muka menyeramkan dari sang wanita. Alasan yang lain adalah karena saya tidak pernah mendengar sebelumnya akan kisah orang yang dibunuh oleh orang kesurupan, namun saya tahu bahwa orang yang kesurupan bisa melukai orang lain.

One of the shots from "Keramat"


EFEK VISUAL DAN REAKSI PENONTON
Saya menonton "Paranormal Activity" saat film tersebut tampil sebagai Surprise Movie di INAFFF 2009. Meskipun berjudul Surprise, nyatanya semua penonton sudah mengetahui film apa yang akan diputar. Euphoria yang saya rasakan saat menonton film itu sungguh di luar dugaan saya. Pertama kalinya bagi saya menonton sebuah film dengan euohoria yang luar biasa. Semua penonton bereaksi sepenuhnya pada setiap adegan yang ditampilkan. Kita berteriak dan ber-"ooohhh" setiap kali adegan sang pria dan wanita tidur di malam hari. Begitu film selesai, kami membicarakan mengenai betapa serunya film ini dan juga adegan-adegan sederhana seperti pintu bergerak sendiri dan lain-lain bisa dihadirkan mengingat efek visualnya tampak seperti tidak terlihat sama sekali.


Hal yang amat sangat lain terjadi saat saya menonton film "Keramat" di JIFFEST 2009. Penonton banyak yang kaget dengan adegan-adegan yang ditampilkan, namun tidaklah sedahsyat seperti euphoria saat menonton film "Paranormal Activity". Ketika film sudah selesai dan sesi Q&A dimulai, pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah pertanyaan superfisial yang saya sendiri kaget masih ada yang menanyakan hal-hal itu. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ingat antara lain :

  1. Ada kejadian serem gak yang terjadi pas shooting?
  2. (Untuk Migi) Mbak Migi gak takut waktu akting kesurupan arawah nenek-nenek?

Tanpa bermaksud merendahkan para penanya, tapi pertanyaan-pertanyaan itu makin menyadarkan saya bahwa diskusi film semakin diperlukan.


Ketika keluar dari auditorium, semua orang meletakkan karcis di tempat "LIKE", sementara saya sendiri meletakkan karcis saya di tempat "DISLIKE". Teman saya yang setuju dengan saya bahwa film "Keramat" itu jelek ingin meletakkan karcisnya di tempat "DISLIKE", namun justru merubah keputusannya karena alasan "semua orang pada milih suka jadi gw bingung." Bukti berikutnya kalau diskusi film harus semakin banyak.


KESIMPULAN
Film "Keramat" mendapatkan dua setengah bintang dan film "Paranormal Activity" mendapatkan tiga setengah bintang.

12 komentar:

  1. saya mungkin satu dari sedikit orang yg gak suka sama paranormal activity hahaha bahkan masuk daftar film paling mengecewakan taun lalu, habis saya nontonnya bosen sih haaha

    BalasHapus
  2. @Fariz wah dulu waktu saya nonton malah seru bgt.hehehe.rame2 gitu brg ma penonton2 lainnya teriak2.never thought that a movie can be so fun for the WHOLE audience there. :)

    BalasHapus
  3. saya belum nonton paranormal activity (takutt hehe). mungkin keramat ada kekurangan ya terutama endingnya, tambahan lagi keramat di endingnya memberikan nasihat eksplisit soal lingkungan hidup, gak nyambung. tapi ini film horor yang lumayan lah dibanding horor lokal lainnya.

    adegan pocong lewat terus berhenti lama buat saya menganggu, mending dia lewat sekilas, lebih serem hehe.

    BalasHapus
  4. hehe dua-duanya sebenernya bukan film yang gue bilang bagus. :) tapi mau cerita, gue nonton 2 film diatas dengan ekspektasi yang sangat kontras.

    Paranormal Activity ( PA ) dengan ekspektasi setinggi-tingginya ( karena euphoria di internet ), dan nonton Keramat dengan ekspektasi serendah-rendahnya ( habis nonton Psikopat ) dan pada akhirnya itu juga ikut mempengaruhi penilaian orang akan sebuah film :) dan banyak lagi hal-hal non-teknis lainnya yang ikut mempengaruhi review sebuah film. sangat subyektif memang, tapi tujuan gue ngereview emang cuma pengen: 'nyeritain pengalaman personal ketika nonton film'. hal-hal teknis yang kamu paparin diatas malah ga sempet gue pikirin. hehe

    makanya, menarik deh ada diskusi film kaya gini, walaupun pada akhirnya, diskusi kaya gini tetep nggak akan pernah membuat sebuah film menjadi lebih baik dari satunya.

    nice post anyway :)

    BalasHapus
  5. @ringo sebenarnya bisa aja tuh mas sebuah diskusi film menunjukkan sebuah film lebih baik dari film lainnya.Tapi semua itu kembali kepada film yang diperbandingkan.

    Saya setuju banget sama pendapat mas yang bilang "menceritakan pengalaman saat menonton film".memang review yang baik ya seperti itu.selain itu, review film itu memang ternyata subjektif klo ditelusuri.gak seperti review gadget.gak tahu deh dengan review buku atau karya seni lainnya. :)

    BalasHapus
  6. belum nonton kedua2nya jadi belum bisa komentar :(

    BalasHapus
  7. gw emang dasarnya penakut, jadi dua2nya gw anggap bagus dan serem :P

    BalasHapus
  8. @Film Ajah selamat mencari filmnya ya! :)
    @adhitiarangga klo gitu film horror yang bikin mas gak takut apa dong?hehe

    BalasHapus
  9. shandi mengatakan........
    film 2 nyata gag sih,?? klo gag jangan dikaitkan dg gempa jogja dong...tu bisa bikin orang gag percaya.

    BalasHapus
  10. @shandi gak nyata kok.dalam film ini memang kyknya kok terlihat krg baik memasukkan gempa jogja. Rasanya sangat kurang pas.

    BalasHapus
  11. Nonton film "Kramat" sih udah, tapi kalo yang "Paranormal Activity" belon.

    Yang saya tahu film "Kramat" tuh bagus filmnya, bagaimana dengan "Paranormal Activity"??

    BalasHapus
  12. halo :) ini 2013, tapi aku baru nemu diskusi film ini, blogger-nya masih aktif kah?
    aku pernah nonton dua-duanya. buat orang yang gak sabaran seperti saya, paranormal activity sebenarnya 'lembut' tapi membosankan.
    tentang ending 'Keramat' itu, 'kan ceritanya mereka gak tahu bakal ada gempa. Poppy sudah berusaha mengambil kamera tapi dicegah Sadha karena gempa mulai parah. Jadi, saya rasa, tidak terlalu menghilangkan POV kameramen.
    selain itu, saya suka dan setuju dengan diskusi ini :)

    BalasHapus