Written & directed by CHRISTOPHER NOLAN cast LEONARDO DiCAPRIO, MARION COTILLARD, ELLEN PAGE, JOSEPH GORDON-LEVITT, TOM HARDY, KEN WATANABE, DILEEP RAO, CILLIAN MURPHY, MICHAEL CAINE released in 2010
BINTANG
Mimpi adalah hal yang paling tepat untuk menggambarkan jiwa sejati dari film. Hal ini sudah disadari oleh Luis Bunuel, seorang sutradara dan surrealist, yang film pertamanya pada tahun 1928, "An Andalusian Dog", menginspirasi berbagai macam film sepanjang sejarah film itu sendiri. Ide Luis Bunuel untuk mengerjakan film itu berasal dari mimpinya dan Ia pun mulai membuat film yang menempatkan realita dan fiksi dalam garis tipis tersebut. Untuk saya, film terbaik yang mampu menceritakan sifat alamiah mimpi dengan segala keabsurdan dan emosi yang ditimbulkan kepada kita adalah "Mulholland Dr." karya David Lynch, seorang sutradara dan surrealist layaknya Luis Bunuel. Jika ingin mengetahui lebih jauh mengenai film tersebut, Anda bisa menemukannya dengan mudah di Wikipedia di link berikut ini.
Saat saya mendengar mengenai ide film "Inception" yang amat sangat menggema di tahun 2010 ini, saya benar-benar belum terpikirkan akan film "Mulholland Dr." karena genre sci-fi, noir, dan action yang membalut "Inception". Terelbih lagi, saat melihat trailer film ini, film-film yang langsung terlintas dalam pikiran saya adalah "The Matrix" karya Wachowski Brothers dan "Dark City" karya Alex Proyas. Ketika saya sedang menonton "Inception", kedua film itu memang ternyata terbukti amat sangat mempengaruhi konsep film "Inception". Namun, ketika saya selesai menonton film "Inception" dan sangat terpukau dengan betapa luar biasanya gabungan genre sci-fi/noir/action serta visual dari film ini, saya menyadari bahwa dunia mimpi yang ditampilkan oleh Christopher Nolan bukanlah dunia mimpi yang sangat dekat sifat alamiah dan keabsurdan mimpi yang kita kenal. Dua hal tersebut tetap menjadi topik yang hanya berhasil ditembus oleh David Lynch. Apa yang Christopher Nolan dalam film ini adalah dunia mimpi yang dikontrol. Bahkan sebenarnya dunia mimpi yang terkontrol itu bisa disebut juga dengan dunia spesial efek. Saya mengatakan hal ini bukan sebagai sarkasme, melainkan sebagai pernyataan akan apa yang saya lihat karakter-karakter dalam film "Inception" ini lakukan. Mereka menggunakan sains dan logika (sebagi perwakilan dari dunia nyata) untuk menerobos alam pikiran (yang diwakili oleh mimpi) layaknya sebuah tim spesial efek bekerja untuk membuat dunia baru dalam sebuah film.
Arthur (Joseph Gordon-Levitt) and Cobb (Leonardo DiCaprio)
"Inception" ini berkisah tentang Cobb (Leonardo DiCaprio) seorang Ekstraktor, pencuri ide melalui dunia mimpi, yang gagal melakukan pekerjaannya untuk mencuri ide-ide dari seorang pengusaha kaya raya bernama Saito (Ken Watanabe). Dalam kegagalannya, Saito justru ingin mempekerjakan Cobb untuk melakukan sebuah hal yang berlawanan dengan pekerjannya selama ini, yaitu menanamkan sebuah ide dalam kepala seseorang melalui mimpi. Targetnya adalah Robert Fischer (Cillian Murphy) dan tujuan dari misi itu adalah agar Robert begitu berhasrat untuk menutup perusahaan ayahnya. Misi ini mengharuskan Cobb untuk membuat sebuah tim baru yang terdiri dari : Arthur (Joseph-Gordon Levitt) yang memang selalu menjadi partnernya, Eames (Tom Hardy) yang pernah bekerja bersamanya dahulu, Ariadne (Ellen Page) yang merupakan murid tercerdas dari Miles (mertua Cobb yang diperankan oleh Michael Caine) dan belum pernah mengenal Cobb atau pun teknologi yang dimiliki Cobb, serta Yusuf (Dileep Rao) yang bersahabat dengan berbagai macam ramuan kimiawi. Dalam misi ini, Cobb pun harus berhadapan dengan mantan istrinya yang hanya hidup di dunia mimpi, Mal (Marion Cotillard), yang selalu berusaha untuk mengacaukan apa pun yang dilakukan Cobb di dunia mimpi.
Saya sungguh terbawa dalam arahan Christopher Nolan. Saya seperti mempercayakan diri saya untuk hanyut ke dalam dunia yang Ia ciptakan. Adegan action yang sebenarnya biasa dan hanya modifikasi dari sebuah film-yang-pasti-akan-muncul-di-otak-kita-saat-menonton-adegan-ini menjadi begitu menegangkan untuk kita ikuti karena kita peduli akan karakternya dan apa yang mereka pertaruhkan di dalam misi mereka. Visual film ini ditaburi dengan berbagai efek visual menawan yang memang selalu menjadi kekuatan utama film sci-fi sejenis "Inception". Hubungan suami istri yang retak dan terlalu didominasi oleh istri antara Cobb dan Mal membuat kita begitu peduli akan kedua karakter ini. Uniknya hubungan tersebut terasa mirip dengan hubungan antara Teddy (Leonardo DiCaprio) dan Dolores (Michelle Williams) dalam film "Shutter Island" karya Martin Scorsese. Karakter Cobb/Teddy yang memiliki masa lalu kelam dengan istrinya adalah hati dari film noir karena kedua karakter tersebut terus dihantui oleh masa lalu mereka.
Dalam misi ini, kita tidak hanya sekedar akan terpukau oleh apa yang Cobb lalui, tapi juga oleh adegan-adegan yang terjadi pada masing-masing anggota tim. Deretan aktor dalam "Inception" yang memang menyukai tantangan untuk kemampuan akting mereka memungkinkan adegan-adegan itu menjadi efektif. Namun, karakter-karakter dalam film ini, kecuali Cobb dan Mal, terlalu jelas diciptakan untuk menggerakkan plot dan menghidupkan peranan visual efek. Hanya Ariadne yang diberi emosi yang memang sepantasnya. Untuk film yang memang berlapis-lapis seperti ini, memang kemungkinan pilihan ini harus diambil oleh Christopher Nolan agar penonton bisa memfokuskan diri mereka untuk lebih memahami dunia ciptaannya dan sang karakter utama, Cobb. Dengan kemasan yang kita tonton tersebut saja, sudah banyak penonton yang merasa harus untuk menonton lebih dari sekali agar mereka lebih memahami film ini.
Mal (Marion Cotillard)
Dari deretan aktor di atas dan kenyataan bahwa hanya Cobb dan Mal yang menjadi karakter dengan emosi terdalam, Marion Cotillard sebagai Mal otomatis menjadi magnet kedua dalam film ini setelah visual efeknya. Kehadirannya di pembukaan film ini langsung menjadikannya sebagai setir dari konflik yang dirasakan oleh Cobb. Bahkan sebelum kemunculan Mal, penonton akan langsung merasakan aura dari karakternya. Butuh lebih dari sekedar efek visual untuk memungkin hal tersebut. Gambaran akan raut wajah dan karakter Mal harus terpatri jelas dalam pikiran penonton untuk mewujudkannya. Karisma dan akting yang mumpuni dibutuhkan untuk menghasilkan karakter Mal selalu menarik perhatian di tengah kekacauan. Lalu, mengapa saya tidak mengatakan magnet pertama dalam film ini bukanlah ide ceritanya atau plotnya?
Bagaimana caranya Christopher Nolan menciptakan berbagai macam peraturan dan batasan akan dunia ciptaannya ini? Itu adalah pertanyaan yang banyak diajukan. Saya sendiri kagum dengan usahanya untuk menjinakkan mimpi sekaligus penonton dengan berbagai peraturan tersebut. Namun, apakah ide mencuri dan menanam ide melalui mimpi adalah sebuah konsep yang orisinil? Animasi asal Jepang berjudul "Paprika" karya Satoshi Kon sudah pernah mengambil ide ini. Selain itu, referensi film ini yang terlalu kuat kepada film "The Matrix"dan "Dark Knight" sehingga aura orisinil pun semakin berkurang.
Plot dalam film ini pun sebenarnya sederhana sekali. Jika penonton membuka mata dan pikiran lebar, tidaklah susah untuk menebak kemana film ini pergi, bahkan sampai ke ending film ini yang banyak dibicarakan orang dan menjadi penegas akan titpisnya perbedaan realita dan mimpi (yang terkontrol). Bagi saya, yang membuat saya duduk terpesona adalah perjalanan untuk mencapai titik-titik yang sudah saya duga tersebut. Sungguh sebuah film tentang proses yang sangat apik, meski tetap efek visual dalam "Inception"-lah yang lebih berperan karena menyihir penonton terlebih dahulu sebelum menjejali otak kita dengan berbagai aturan main dari Christopher Nolan.
Aturan main tersebut membuat penonton berpegangan kepada Christopher Nolan sepanjang film. Jika kita tidak berpegangan kepadanya, kesalahan-kesalahan dalam film ini pun akan jauh lebih terlihat. Christopher menjaga erat pegangan kita kepadanya dengan mempercepat pacing cerita sehingga banyak dari penonton yang tidak sempat untuk menelaah lebih jauh adegan-adegan dalam film ini ketika menontonnya. Kita pun menelan mentah-mentah semua aturan main tersebut. Kesalahan-kesalahan tersebut berhubungan dengan prosedur karakter-karakter dalam film ini bisa memasuki dunia mimpi, sifat alami dan keabsurdan dari mimpi, dan sebuah aturan main yang dihadirkan oleh Christopher Nolan mengenai alam bawah sadar. Untuk yang sudah menonton "Inception", Anda bisa menuju ke bagian akhir dari review ini yang sudah saya beri tanda SPOILERS WARNING.
Dari film-film Christopher yang pernah saya tonton selain "Inception", meliputi "Memento", "The Prestige", "Batman Begins", dan "The Dark Knight", saya memang masih menganggap bahwa film terbaiknya adalah "The Dark Knight". Dalam film tersebut, saya tidak menemukan kesalahan. Mungkin ada kekurangan, tapi saya rasa kekurangannya bukanlah kekurangan yang mengganggu keutuhan filmnya. Hal yang berbeda saya rasakan saat menonton "Memento" dan "The Prestige". Setelah menonton "Memento", saya setuju dengan pertanyaan dari Roger Ebert untuk film tersebut ("Mengapa orang yang mengidap short-term memory losss bisa sadar kalau Ia memiliki short-term memory loss?"). Setelah menonton "The Prestige", saya harus mengatakan bahwa lompatan dari sulap-sulap yang terasa magis ke sci-fi yang dihadirkan oleh film itu justru menghilangkan sihir dari kisah pesulap-pesulap tersebut. Meski begitu, keduanya adalah film yang cukup baik dengan ide yang segar. Kini, "Inception" sangat memukau saya karena Christopher Nolan menunjukkan keahilannya dalam memainkan pikiran penonton hingga tidak sadarkan diri akan kesalahan-kesalahan yang ada di dalam dunia ciptaannya. Ketika film tersebut sudah mengendap dalam benak kita, beberapa dari kita pun mungkin akan tersadar akan adanya keanehan dalam film "Inception" atau mungkin tidak.
Tunggu...
Apa momen saat kita sadar itu menandakan kita sudah terbangun dari dunia mimpi yang dikontrol/spesial efek ciptaan Christopher Nolan? Kalau memang begitu, saya bersyukur karena saya sudah terbangun.
*******
SPOILERS WARNING
Ini adalah beberapa kesalahan dari film "Inception" :
- Teman saya, Mas Adi Nugroho, melemparkan pertanyaan mengenai alasan mengapa wajah kedua anak Cobb yang selalu tidak terlihat. Arah pertanyaan itu bukanlah sekedar menanyakan alasan yang sudah dijelaskan oleh Cobb, yaitu bahwa dia hanya ingin melihat wajah kedua anaknya di dunia nyata. Pertanyaan tersebut sebenarnya mengarah kepada pertanyaan lain tentang alam bawah sadar. Aturan main yang diberikan Christopher Nolan mengenai berbagi mimpi adalah orang-orang yang mengisi dunia mimpi ciptaan dari seorang pemimpi adalah projeksi dari alam bawah sadar mereka. Dalam alam bawah sadar Cobb, tersimpan Mal dan kedua anaknya. Seperti kita ketahui sepanjang film, Mal adalah projeksi dari alam bawah sadarnya yang paling tidak bisa ditebak kemunculannya. Semakin cerita bergulir, kemunculan kedua anaknya pun semakin tidak tertebak layaknya Mal. Lalu, bagaimana bisa Cobb tetap tidak bisa melihat wajah kedua anak tersebut padahal mereka adalah projeksi dari alam bawah sadar yang tidak terkendali? Christopher menghadirkan kedua anak itu selalu dalam posisi saat Cobb meninggalkan mereka tanpa melihat wajah mereka. Di saat Mal yang berasal dari dunia yang sama bisa muncul dengan seenaknya dan kostum berbeda-beda, mengapa kedua anaknya tetap tidak terlihat? Sudah jelas bahwa ini semua karena Christopher Nolan menginginkan kedua wajah tersebut hanya terlihat di ending film "Inception". Hal ini adalah hasil dari kontrol sutradara yang berusaha menjaga dramatisasi dengan aturan main yang Ia ciptakan sendiri.
- Karakter-karakter dalam film ini memasuki mimpi dengan menggunakan sebuah alat yang memasukkan sejenis obat ke dalam tubuh mereka. Dari perekrutan Yusuf, kita mengetahui bahwa mereka menggunakan obat sedatif dalam alat tersebut. Penggunaan obat sedatif dalam film ini sudah terlihat amat sangat tidak sesuai dengan anjuran dokter mana pun di dunia. Tidak peduli betapa canggihnya teknologi, obat itu merupakan bahan kimia dan obat sedatif adalah jenis obat yang sangat dibutuhkan kontrol dari dokter. Mengingat penggunaan obat sedatif tersebut, saya tidak habis pikir bagaimana karakter-karakter dalam film ini bisa terlihat segar bugar dalam dunia nyata. Bahkan Cobb kuat ketika berlari dari kejaran banyak orang. Obat sedatif sendiri ada yang memiliki akan menciptakan mimpi buruk yang akan menganggu tidur. Namun, karakter-karakter ini selalu tampak tidur dengan tenang. Jika penjelasan untuk yang satu ini adalah karena itu menandakan bahwa keseluruhan film ini adalah mimpi, maka akan lebih banyak lagi aturan main yang dikacaukan dan akan membuat film ini menjadi film yang curang kepada penontonnya.
- Dalam sebuah adegan di kafe di pinggir jalan kota Paris, Ariadne tampak berbincang-bincang dengan Cobb. Lalu, Ariadne tidak sadar bahwa Ia sedang berada dalam mimpi. Dunia mimpi itu pun hancur sesuai dengan habisnya masa obat. Ariadne dan Cobb memutuskan kembali bermimpi dengan dunia mimpi yang dihasilkan oleh Ariadne dan orang-orang yang berasal dari alam bawah sadar Cobb. Di sini dijelaskan bahwa Cobb tidak ingin membuat dunia mimpi karena dunia itu akan kacau karena Mal akan mengetahui seluk beluk dunia mimpi ciptaannya. Dari penjelasan tersebut, berarti dunia mimpi pertama saat Ariadne tidak sadar Ia sedang bermimpi merupakan dunia mimpi Ariadne sendiri. Pertanyaannya adalah : bagaimana mungkin dunia mimpinya sudah begitu terkontrol? Ariadne bahkan belum mengetahui teknologi tersebut. Saat terbangun, Ia malah menyatakan kalau dirinya sudah berbicara satu jam di dunia mimpi dengan Cobb. Bagaimana bisa dunia mimpinya sama sekali tidak mengalami perubahan-perubahan seperti layaknya mimpi pada umumnya? Bukankah Ia bisa saja berpindah tempat dan bertemu setan atau terbang di angkasa dalam mimpi yang tidak terkontrolnya tersebut? Saya rasa adegan itu ada dengan alasan untuk sekedar membuat penonton berkata, "HA?






kayaknya seru abis, wajib nonton nih
BalasHapusNolan bilang sendiri kok klo inception emang terinspirasi dari 2 film yang lo sebutin, Matrix & Dark City...
BalasHapus@adhitiarangga yep.dia emang bilang.tapi kemasan dunia mimpi dikontrol yang dipersembahkan Nolan jadi terlalu mirip banget sama Dark City. Bahkan hubungan Cob sama Mal slintas terlihat sekali pengaruhnya dari hubungan karakter utama dan wanita yang dicintainya di Dark City.Caranya masuk ke dunia mimpi dan adegan action-nya juga terlalu menjadi sekedar modifikasi The Matrix. Bisakah dianggap ini orisinil? Klo menurut saya,tidak begitu orisinil. Berbeda dg Kill Bill yang tidak sekedar terang-terangan mempertunjukkan pengaruh dari berbagai macam film, tapi mempertontonkannya secara vulgar dalam lingkup dunia Tarantino sendiri. IMO lho kk :)
BalasHapuswuih..wuih.. mantab bgt reviewnya...
BalasHapusmgkn filmnya terlalu overrated jdnya berasa kurang istmewa pas ditonton. Tp bukan berarti film buruk lho, bahkan sangat berkualitas..
inception from my prespective, film "gila" dlm ide yg berlanjut ke jalan ceritanya, berterima kasihlah pada nolan bersaudara, spesial efek dan hans zimmer tentunya...
Saya sendiri pun tidak merasa kalau film ini seratus persen orisinil. But still it is a very entertaining movie... walau kadang agak berat dipahami di bagian tertentu apabila tidak perhatian menonton. =D
BalasHapusDiluar cerita yang luar biasa, memang ada beberapa adegan yang dipaksakan untuk kepentingan film.
BalasHapus1. Seperti pada saat mimpi level 2, dimana Arthur mencoba membangunkan semuanya dengan menjatuhkan lift pada saat gravitasi 0. Pertanyaannya, kalau gravitasi 0, bagaimana lifnya bisa jatuh? Seharusnya walau tali lift diputus, lift akan tetap melayang
2.Pada mimpi level 1, seharusnya kan cara dibangunkannya dengan cara "ditendang" atau dijatuhkan. Nah pada adegan kejar2an kan mobilnya sempet terbalik2.. kenapa nga pada bangun??
3. Konsep Limbo, dimana semua orang yg tersesat dalam mimpi dan tidak bisa kembali, akan terkoneksi 1 dengan lainnya, seperti saat Cobb menyelamatkan Fischer dan Saito.. kok kaya akhirat ya? semua org yg mati masuk akhirat??? kesannya terlalu dipaksakan..
Tapi terlepas dari berbagai kekurangannya.. film ini tetaplah film yg briliant... salut
@Tiko: Great review. Sangat enak dibaca dan penalaran2 yang diberikan sangat menarik.
BalasHapusFilm ini benar2 membuat kita berpikir, bahkan saat me-review pun kita masih harus berpikir keras. (-:
Good job, bro.
yes, sedikit overrated, walaupun gak separah dark knight overratednya.
BalasHapusbut still a brilliant movie. cuma agak kurang element of surprise-nya kayak di prestige yang benar2 bikin gw aw..aw..aw..aw.....
keren banget film nya. baru nonton, dan hasilnya gak sia-sia. hehehe.
BalasHapusfilmnya sempat buat otak saya berpikir keras, hehe, cuma akhirnya jelas juga. jelas kalau saya bingung. :D
regards,
hebat banget reviewnya. jelas banget.
BalasHapusdiberikan kelabihan dan kekurangan film, membuat gw jadi pengen nonton setiap film yang di review.
seneng bgt bisa nemuin blog ini.
cheers.
Yang nomer 3 kk, aturan mainnya kan juga gini:
BalasHapusDunia mimpi dibangun oleh 'desainer' dan seorang 'desainer' tidak harus masuk ke dalam mimpi tersebut, cukup menunjukkan layoutnya pada pemimpi.
Tapi dalam misi Fischer, Ariadne ikut masuk karena masalah masa lalu Cobb yang dia anggap berbahaya.
Jadi saya kira lebih logis kalo yang mendesain mimpi pertama adalah Arthur. Cobb tidak mau mendesain mimpi dan Ariadne belum tau apapun. Satusatunya orang selain mereka berdua yang ada disana adalah Arthur.
Just IMO :)
@adithumar probably.tapi gak ada adegan yg pernah nunjukkin klo arsitek itu bisa gak ikut dalam mimpi sih.arsitek dlm misi pertama utk extract ide dari Saito juga ikut masuk dalam mimpi kan... :)
BalasHapusreviewnya bagus gan, kalo mo nonton film yang lain bisa berkunjung ke tempat saya Cekdot download gratis film terbaru ditunggu kunjungan baliknya gan...suwun
BalasHapusDi misi Saito si arsitek cuma masuk ke mimpi layer 1, di layer 2 dia ga nampak.. :)
BalasHapus@adithumar ooh ya masuk akal. :)
BalasHapusmantap ini film,
BalasHapuscoba aja orang Indonesia bisa bikin film bermutu begini...
tapi gua akui Nolan memang jenius dan idealis. :D
BalasHapusgw coba kumpulin reviewan film ini dari beberapa blogger di blog gw.
BalasHapustermasuk tulisan labirin film di atas.
*bang mupi kok komennya sama smua yah di jagoanmovies dan vampibots jg
menurut saya malah penggunaan waktu oleh nolan justru terbalik bila dibandingkan dengan dunia nyata
BalasHapusbila anda pernah merasakan anda tertidur dan bermimpi, anda pasti pernah merasakan bahwa didalam mimpi tersebut anda paling baru merasa beberapa menit saja, tetapi ketika anda terbangun waktu sudah berlalu dengan cepat
saya juga pernah merasakan di bius secara total untuk pelaksanaan operasi
saat saya memejamkan mata karena efek obat bius itu hanya terasa beberapa detik saja
(seperti saat anda memejamkan mata lalu anda langsung membukanya kembali)
namun saat saya melihat jam di kamar operasi ternyata operasi saya sudah berlangsung selama 3 jam
saya ingin mengetahui teori waktu dalam mimpi yang mana yang dipergunakan oleh Nolan dalam inception???
@anonim menarik sekali apa yg anda bilang.saya juga jadi sadar akan hal itu.hehe.jujur konsep yang Nolan gunakan juga ada benarnya. begitu juga yang anda bilang.humph. *pusing :D
BalasHapusBoss, di misi extraction saito kan pas di level 2(mimpi lapis pertama) si arsitek yg mimpi. Teorinya nolan kan kalo seseorang udah mimpi di level sebelumnya, maka dia gak boleh ikut ke level selanjutnya krna dia bertugas melakukan kick..tp masalah arsitek bisa gak ikut ke dunia mimpi itu bukannya emg bisa ya?waktu mereka mau berangkat, si cobb awalnya emg gak mengijinkan ariadne ikut, tp ariadne maksa krna khawatir sama subconscious nya cobb yg terganggu. Ini seingatku ya boss..CMIIW
BalasHapus@ismie iya.poin kamu sama kayak adithumar.jawaban saya : masuk akal. :)
BalasHapusmenurut gw film ini film gila n konyol. emg ada2 aja imajinasi dan ide2 pembuat film, film gila dan konyol ini jd menarik jg buat ditonton, kalau digarap scara matang n serius.
BalasHapusWah ulasannya ok banget nih...
BalasHapusSaya bantu ikut menjelaskan point2 yang masih dipertanyakan ya, benar tidaknya ya ini cuma interpretasi saya sendiri:
1. Kenapa Cobb gak bisa melihat wajah anak2 nya sepanjang film? -- well, di bagian awal ada adegan Cobb bercerita ke Ariadne (waktu mereke menjelajahi "penjara kenangan" yang dibuat Cobb) kalau dia terpaksa meninggalkan anak2nya tanpa sempat melihat wajah mereka untuk terakhir kali... he said something like this "these are the moments I can't change...". IMHO, karena dasarnya "kenangan", wajar Cobb gak bisa lihat wajah mereka dalam mimpi yang dia bangun sendiri karena kenangan itu gak ada... Ini juga berlaku di mimpi2 yg lain, proyeksi mereka dari alam bawah sadar Cobb terbatas sampai dengan kenangan terakhir yang Cobb simpan di memori otaknya.
2. Penggunaan sedatif: hmm... kalau pengertian saya, dream-sharing ini gak sepenuhnya legal kan (malahnya sepertinya ilegal), jadi ya tentu saja tidak mengikuti aturan atau anjuran dokter :D. Sedatif yang relatif lebih kuat juga digunakan cuma untuk proses eksekusi Inception ke Fischer, jadi waktu Cobb lari2 di Mombasa dia belum pakai kan... setelah itu dia cuma nyoba untuk waktu yang sangat pendek. Kemudian Yusuf mengembangkan lagi sedatif yang khusus memicu bagian2 tertentu dari otak yg berhubungan dengan kemampuan "lucid dreaming". Ini juga menjelaskan kenapa di proses inception, waktu dalam mimpi bisa lebih lama dari mimpi2 sebelumnya.
Rasanya Nolan memang sengaja meninggalkan penjelasan yang lebih spesifik soal ini karena inti dari filmnya bukan soal teknologi dream-sharingnya itu sendiri... IMHO tentunya ya.
3. Mimpi Ariadne yang pertama: sudah dijelaskan di atas... arsitek bisa masuk ke dalam mimpi. Cobb awalnya gak mau melibatkan Ariadne dalam eksekusi inception karena dia janji ke Miles (his father in-law) kalau Ariadne cuma ditugaskan membangun labirin mimpi. So either it was Cobb or Arthur who built her first dream. I think it was Arthur.
@Frederik:
1. Arthur meledakkan bagian bawah lift dan menciptakan daya dorong (propulsion), nah pas liftnya menyentuh dasar, kecepatan + benturan yg terjadi menyebakan sentakan ke atas ("kick").
2. Di awal dijelasin kalau dengan sedatif dari Yusuf, mereka gak bisa bangun dengan "kick" yang biasa, trick-nya adalah dgn membuat/meyelaraskan "kick" dari setiap level secara bersamaan. IMHO, pengertiannya, mereka harus bangun dulu di level sebelumnya, baru bisa bangun di level di atasnya. Sewaktu van-nya terguling2 itu kan di level 2 dan level 3, Cobb cs masih beraksi, belum sempat membuat "kick" di level mereka.
3. Kalau menurut saya, Limbo gak keliatan seperti akhirat kok... Bangunan yang ada itu bekas buatan Cobb dan Mal kan, ketika mereka terjebak di situ. Mungkin karena mereka sudah keluar dari Limbo, ya bekas2 bangunan yg mereka buat pelan2 rusak dgn sendirinya.
Btw, mimpi2 saya malah sama seperti gambaran Nolan. Di mimpi rasanya sudah berhari2, padahal tidurnya cuma sebentar :D.
-retno-
@retno...wow, penalaran yg top
BalasHapus@retno
BalasHapus1. Berarti otak Cobb masih bisa merespon keinginannya yang tidak ingin melepaskan kenangan terakhirnya itu kan? Nah, kenapa gak bisa merespon saat dia gak mau ngeliat? Kenapa gak bisa ngerespon supaya si Mal gak selalu muncul dalam balutan pakaian oke?hehehe.
2. Yep! Intinya memang bukan dream-sharing. Kesalahan poin ini lebih terasa seperti goofs. Bisa dimaafkan kok karena toh ini sci-fi..betul? :)
3. Komen saya sama juga seperti sebelumnya.hehehe :)
Thanks yah komennya.
Bukankah Ia bisa saja berpindah tempat dan bertemu setan atau terbang di angkasa dalam mimpi yang tidak terkontrolnya tersebut?<<<itu klo sutradaranya Nayato Fio Nuala ato Rizal Mantovani yg menurut saya 100% gk punya ide dan gk becus bikin film!
BalasHapus