Minggu, 25 Juli 2010

Review : Pintu Terlarang




Written & directed by JOKO ANWAR cast FACHRI ALBAR, MARSHA TIMOTHY, ARIO BAYU, OTTO DJAUHARI, TIO PAKUSADEWO, HENIDAR AMROE, ATIQAH HASIHOLAN based on the novel of the same title by SEKAR AYU ASMARA released in 2009

BINTANG



Saat film "Kala" dirilis, banyak yang menyebut pengalaman menonton film ini sebagai sebuah "cinematic orgasm". Namun, saya tidak dapat merasakan hal tersebut pada kali pertama saya menonton. Saya banyak menggerutu sepanjang film mengenai beberapa hal. Salah satunya adalah bagaimana film "Kala" tampak terlalu sibuk dengan gaya visual dibandingkan membenahi pencampuran genre noir/fantasi/horror/thriller yang masih terasa kasar. Sekarang, saya yakin kalau film "Kala" bukanlah film yang seburuk saya pikirkan., walaupun kekurangan yang saya sebutkan tersebut masih terasa Pemikiran ini datang setelah saya menonton "Pintu Terlarang". Dibandingkan dengan film "Pintu Terlarang", "Kala" adalah sebuah film lebih orisinil (meski kedua film ini banyak mengambil referensi adegan dari berbagai film secara terang-terangan) dan membuat saya lebih peduli akan karakter-karakternya.


Dalam film "Pintu Terlarang", seorang pematung bernama Gambir (Fachri Albar), yang sukses karena ciri khas patung wanita hamilnya, tampak didominasi oleh istrinya, Talyda (Marsha Timothy). Seorang anak kecil juga kerap menyampaikan pesan "Tolong Saya" kepadanya. Suatu ketika, Ia menemukan sebuah pintu berwarna merah di rumahnya yang dilarang untuk dibuka oleh Talyda. Patung, Talyda, anak kecil, dan pintu rahasia tersebut menjadi elemen utama film bergenre fantasi/thriller/gore ini.



Layaknya "Kala", genre fantasi dari "Pintu Terlarang" sudah dapat dirasakan dengan setting tempat yang terasa antah berantah. Meski banyak penonton tahu dimana syuting film ini berada, tapi melihat bagaimana tempat tersebut dijadikan setting kehidupan masyarakat modern dengan billboard yang berisikan ads bergaya pop art membuat kita merasa bahwa karakter-karakter ini hidup di sebuah dunia tersendiri. Sebennarnya saya mengharapkan Joko Anwar bisa menciptakan dunia antah berantah seperti layaknya film "Kala" dengan syuting di tempat yang berbeda. Tapi, ini bukanlah hal yang terlalu mengganggu pengalaman saya menonton filmnya.

Di film "Kala", ketertarikan saya dengan dunia ciptaan Joko Anwar turun karena adegan seorang wanita ditabrak dan ditelantarkan begitu saja. Meski mengandung kritik sosial yang disajikan dalam adegan yang menarik dan cukup memancing penonton, tapi adegan itu sudah menghilangkan koneksi saya dengan filmnya. Saya merasa dunia itu berada jauh dari dunia nyata yang sebenarnya sudah kejam ini. Karakter-karakter dalam film tersebutlah yang menyelamatkan saya karena membuat saya peduli dengan permasalahan mereka. Sungguh sayang sekali, ending "Kala" justru kembali mengecewakan saya karena saya tidak merasa kepedulian saya dibayar dengan harga yang cukup seimbang dengan twist tersebut.

Di film "Pintu Terlarang", ketertarikan saya dengan dunia ciptaan Joko Anwar turun karena adegan dimana Talyda mendapatkan ide gila untuk membuat patung Gambir terlihat lebih hidup. Meski motifnya jelas bagi Gambir dan Talyda untuk akhirnya melakukan apa yang mereka lakukan selanjutnya, tapi perubahan penting dalam adegan tersebut memerlukan eksplorasi lebih jauh hingga sampai ke titik perubahan tersebut. Akibatnya, saya menjadi tidak begitu peduli dengan karakter-karakter dalam film ini. Saya hanya ingin mengetahui tabir di balik misteri-misteri yang ada.

Ketika saya tiba di twist terbesar dalam film ini, saya pun harus kembali merasa agak kecewa karena ternyata saya diperlakukan dengan tidak adil. Twist terbesar dalam film ini sebenarnya bukanlah sebuah twist yang baru dalam dunia film. Alasan kenapa twist tersebut tidak efektif dan curang adalah karena 1) dibutuhkan kepedulian dari penonton kepada karakter-karakternya dan 2) adanya informasi-informasi yang memang mengarahkan ke sana jika diperhatikan lebih lanjut oleh penonton. Kedua hal tersebut tidak saya dapatkan sampai akhirnya kurang dari 5 menit sebelum twist tersebut.

Jika kita berbicara mengenai tampilan visual "Pintu Terlarang", Joko Anwar tidak mengecawakan sama sekali. Beserta timnya, Joko Anwar membuat penonton ingin mengetahui seluk beluk dunia ciptaannya lebih jauh. Pergerakan kameranya selalu hidup dan mampu menaikkan tensi film. Wencislaus yang menangani dekorasi dan properti dalam film ini kembali patut diacungi dua jempol.  Secara teknis, "Pintu Terlarang" memang tampil menonjol.



Penampilan Fachri Albar dan Marsha Timothy juga sangat apik. Inilah dua aktor karismatik yang siap untuk menempuh karakter-karakter yang membutuhkan perjuangan berat untuk didalami, tidak peduli seberapa dangkal karakter yang skenario sediakan atau seberapa kecil peran untuk mereka. Saya masih ingat sebuah peran Marsha Timothy di sebuah FTV. Karakter yang Ia mainkan sungguh sederhana dan klise sebenarnya, yaitu seorang suster yang jatuh cinta kepada pasien yang sebentar lagi akan meninggal. Di tangannya, karakter itu bersinar. Dalam "Pintu Terlarang", Marsha kembali menampilkan karismanya sejak opening dari film ini. Itu bukan hanya datang dari kecantikannya, tapi juga dari bakatnya. Di lain pihak, Fachri Albar sudah membuat saya kagum dengan perannya sebagai waria di "Jakarta Undercover" dan pengidap narkolepsi di "Kala". Di "Pintu Terlarang", yang sebenarnya mereka perlukan hanyalah adegan yang menunjukkan eksplorasi lebih lanjut ke dalam diri karakter mereka.

Dari "Kala" dan "Pintu Terlarang", Joko Anwar sudah terlihat memiliki gaya visual yang hidup dan memukau dengan adegan yang pasti akan selalu diingat. Contohnya adalah adegan Christmas Dinner dalam film "Pintu Terlarang". Dalam film "Quickie Express" yang skenarionya ditulis olehnya, Ia terlihat mampu membuat dunia eksentrik dengan karakter-karakter eksentrik yang membuat penonton peduli dan jatuh hati kepada mereka. Suatu saat nanti, saya harap Joko Anwar tidaklah lagi jatuh akan kesalahan di tempat yang sama seperti yang terlihat dari "Pintu Terlarang" yang mengulang kesalahan dari "Kala" dengan lebih parah. Saya akan tunggu karya selanjutnya dari Joko Anwar yang akan menyempurnakan konsep petualangan liar karakter eksentrik dalam dunia antah berantah dengan balutan visual dinamis yang mampu membuat penonton peduli sepenuhnya peduli kepada karakter, keseluruhan petualangan, dan dunia itu sendiri.

8 komentar:

  1. gw setuju sama pendapat lo tik hehe gw agak kecewa sama film ini, dan malah gw jg gak begitu suka aktingnya.. tapi keberanian joko anwar cukup bisa diacungi jempol

    BalasHapus
  2. Setuju dengan endingnya yang sudah "biasa" menurut gua.

    BalasHapus
  3. Filmnya sih terkesan kebarat-baratan menurut gua, hanya saja klo dibandingin dengan film kotor berbasis setan dan seks buatan sineas lokal lainnya, ya film ini jauh lebih berkualitas, hehe..

    nice review..

    BalasHapus
  4. Setuju.

    Sejauh ini sih Joko Anwar memang terkesan cenderung mengandalkan teknis (kalau gak mau dibilang cuma menang di teknis doang).

    BalasHapus
  5. gw juga ga begitu suka ama nih film ga bagus laah klo dikasih score yaah 45 lah ya hehhe

    BalasHapus
  6. wah kmaren kayanya ketemu d pesta bloger yaa .. salam kenal yaa, ikutin acaranya sampe jam berapa?

    BalasHapus
  7. Di banding dengan pembuat2 film indonesia yg lain, joko anwar masih dlam kategori bagus.. dan ak kan sellu mendukungnya..

    BalasHapus
  8. Lumayanlah untuk ukuran film Indonesia, walaupun ide ceritanya nggak orisinil..!

    BalasHapus