Selasa, 11 Oktober 2011

LAFFEST 2011 #1 : John Cassavetes dan Gairah Personalnya



"People who are making films today are too concerned with mechanics -
technical things instead of feeling." - John Cassavetes (1980)

Jika membicarakan tentang John Cassavetes, maka tidak akan jauh dengan asosiasi independensi. Benar jika John Cassavetes bukanlah sutradara film yang secara mandiri mendanai film-film produksinya sendiri. Ada Shirley Clarke (Portrait of Jason, The Connection), Maya Deren (Meshes of the Afternoon, At Land), Lionel Rogosin (Come Back Africa, On the Bowery), dan Morris Engel (Little Fugitive) yang telah lebih dahulu berjuang keras di jalur independen. Tetapi John Cassavetes yang dianggap sebagai sutradara independen pertama yang memperlihatkan bahwa mengumpulkan dana, membuat, lalu mendistribusikan film sendiri adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. Tanpa campur tangan Hollywood dan jaringan bioskop besar, sukses Cassavetes dengan karya perdananya Shadows, secara ironis didapatkan pertama kali di luar negaranya sendiri. Shadows meraih sukses dengan diputar di kota-kota besar Eropa seperti Paris, London, dan Roma, baru setelah itu dilirik oleh distributor film di Amerika.


John Cassavetes sendiri sebelum membuat debutnya dengan Shadows adalah seorang aktor papan tengah yang telah cukup punya nama di Hollywood. Peran-perannya berkisar pada lelaki macho kelas pekerja atau pria yang berada dalam lingkaran kejahatan. Untuk urusan akting pun nama Cassavetes sudah terkenal sebagai seorang aktor yang gemar memberontak. Cassavetes sering protes dan membangkang dengan bagaimana cara peran-perannya harus dibawakan a la Method acting yang dipopulerkan di Hollywood oleh Lee Strasberg. Dapat kita lihat aktingnya yang terasa beda dengan film- film produksi Hollywood pada zamannya (bahkan sampai sekarang) pada film Edge of the City arahan Martin Ritt. Kolaborasinya dengan Sidney Poitier terasa begitu nyata, dan "raw". Ideologi  akting cara itulah yang di kemudian hari dijadikan dasar pada hampir semua film-film yang dia sutradarai.

Kesuksesan Shadows sendiri pada sirkuit festival film di Eropa membuat nama Cassavetes dilirik Hollywood sebagai seorang sutradara yang mempunyai talenta dan harus segera dipekerjakan. Cassavetes pun dikontrak bekerja di Hollywood, diberi kantor yang lapang, gaji besar dan sekretaris. Too Late Blues dan A Child is Waiting adalah dua film yang dia sutradarai untuk studio Hollywood. Yang pertama adalah sebuah film yang kalau dinilai dari sisi ekonomisnya bisa dikategorikan sebuah B-picture, sedang yang kedua adalah produksi lumayan besar karena melibatkan mahabintang saat itu Burt Lancaster dan Judy Garland yang popularitasnya tengah meredup.

Bekerja untuk Hollywood tampaknya memang kurang cocok untuk diri Cassavetes. Tidak terhitung berapa kali perselisihan terjadi antara dirinya dan para produser dan bintang film Hollywood tersebut. Yang paling terkenal adalah dengan produser ternama Stanley Kramer serta Judy Garland dalam A Child is Waiting. Cassavetes sempat memberi pukulan telak di wajah Kramer yang berpendapat bahwa film tersebut kurang memenuhi selera pasar sehingga Kramer berusaha meng-edit versi akhir A Child is Waiting, dengan menambah score film, serta close-up untuk menambah nuansa sentimental untuk film yang berkisah tentang perjuangan seorang wanita yang menjadi guru di sebuah sekolah luar biasa untuk anak-anak yang mengalami keterbatasan fisik.

Pertikaiannya dengan figur-figur penting di Hollywood itu membuat namanya menjadi buruk di kalangan pelaku industri film lainnya. Oleh karena itu fokus pembahasan saya di bawah ini akan lebih kepada 5 film independen murni produksi dan distribusi John Cassavetes sendiri.


1. Shadows (1959)

Tidak ada satupun karakter yang hitam-putih baik-jahatnya dalam film-film Cassavetes. Semua karakter berada diantara baik dan buruk. Jika Lelia, Tony, Bennie, Hughie, dan karakter lain dalam Shadows mempunyai masalah, maka masalah-masalah itu di ciptakan oleh mereka sendiri dan mereka pulalah yang mesti memecahkan.

Dalam karya-karya Cassavetes, permasalahan bukanlah dari luar tapi didalam diri para karakternya. Setiap karakter di Shadows memainkan sebuah peran yang menyalahi kodrat mereka sendiri atau mencoba menjadi bukan diri mereka sendiri. Tony ingin menjadi seorang cowok yang dikagumi banyak wanita, Bennie ingin terlihat asik, Hughie ingin dianggap kuat, melindungi, dan kakak yang baik, Lelia berpura-pura bahwa masalah ras tidak penting dan seks tidak mempunyai konsekuensi emosional. Kebohongan yang mereka tampilkan bukanlah kebohongan yang kita katakan kepada orang lain, tapi yang kita katakan pada diri kita sendiri. Tentu saja, ketika kita bertindak bodoh pada diri sendiri, selalu kitalah yang paling terakhir menyadarinya.

Cassavetes ingin menyorot tentang metafora yang hadir di sekeliling kita sendiri yaitu perbandingan antara "topeng" yang kita pakai di masyarakat, dengan "wajah" asli kita yang kita sembunyikan.

Versi film Shadows yang dapat kita saksikan sekarang merupakan versi kedua. Versi ini merupakan hasil editan yang disebabkan oleh buruknya reaksi dari penonton, ketika untuk pertama kalinya Shadows diputar di sebuah acara. Dari semua penonton yang hadir, semua keluar dari teater kecuali seorang kritikus film yang juga seorang sutradara bernama Jonas Mekas. Pada zaman itu apa yang dilakukan Cassavetes bisa disebut revolusioner. Shadows tidak mempunyai cerita selain sepenggal kisah hidup masing-masing karakter yang telah disebut di atas. Disjointed editing, compulsive laughter, dan maniacal anger muncul secara obtrusif. Namun Mekas yang begitu terkesima menuliskan pengalamannya menonton Shadows sebagaimana medium film itu baru pertama kali ditemukan.

Maka ketika Cassavetes memutuskan untuk meng-edit ulang Shadows menjadi lebih tertata, Jonas Mekas-lah orang yang pertama kali merasa kecewa. Protesnya di Village Voice menyebut John Cassavetes telah terjual jiwa-nya. Namun Cassavetes berdalih apa yang Mekas saksikan pertama kali itu merupakan suatu eksperimen yang belum sempurna.


2. Faces (1968)

Faces melanggar semua batas-batas bagaimana sebuah film itu dapat dipresentasikan. Layaknya Shadows sekuensnya tidak indah sama sekali bila ditilik dari standar film Hollywood saat itu, dialognya tidak elegan, akting para karakternya mengejutkan seperti kamera yang mengikuti bergeraknya mereka dan bukan aktor dan aktrisnya yang mengikuti sebuah storyboard yang telah digariskan oleh sutradara sebelumnya.

Faces dibuat sebagai ungkapan kekecewaan Cassavetes terhadap studio Hollywood yang baru saja menyewanya untuk menyutradarai Too Late Blues dan A Child is Waiting. Cassavetes merasa 2 film tersebut medioker dan pengalaman terburuk dalam karirnya karena campur tangan terlalu besar dari eksekutif studio di Hollywood, seakan kata "Art" adalah haram bagi mereka, sehingga Faces direncanakan Cassavetes sebagai gambaran hidup mereka. Hasilnya Faces mengobrak-abrik mitologi tentang "the American life" khususnya kehidupan Hollywood beserta etika bisnisnya dan bagaimana suatu film itu mesti dibuat. Penyembahan terhadap keglamoran, uang dan kekuasaan seseorang ditampilkan tanpa terjebak dalam formula lama, hal-hal klise dengan harapan penonton dapat menemukan cara lain dalam mengerti perilaku para karakternya.


3. A Woman Under the Influence (1974)

A Woman under the Influence adalah sebuah perayaan mengenai perbedaan kita dengan orang lain, dalam hal fisik, pemikiran, status sosial, atau seksual.
Mabel adalah seorang istri dari seorang pekerja kasar dengan dikaruniai 3 anak. Mabel mempunyai kelainan dimana pada satu saat dia dapat bertindak layaknya wanita normal dan di saat lain dapat berubah seperti orang gila dengan berprilaku berlebihan, atau bahkan lupa ingatan.

Film ini dibuat berdasar pengalaman kehidupan pernikahan Cassavetes dengan Gena Rowlands. Gena dalam film ini memerankan Mabel, ibu rumah tangga yang mengidap kelainan seperti telah disebut sebelumnya. Namun kehebatan Cassavetes terletak pada observasinya yang mendalam terhadap individu-individu dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak diberi dialog-dialog cerdas khas Tarantinian, tetapi dialog yang simpel, kadang terdengar bodoh, dan lucu seperti yang kita dengar dan lakukan dalam keseharian hidup kita. Emosi dan gambaran karakter kita tangkap karena kita mengenal karakter-karakter tersebut dari dialog dan tindakan mereka. Simpati dan benci kita terhadap suatu karakter muncul seperti saat kita mengevaluasi seorang teman atau kerabat dari aksi nyata yang mereka perlihatkan dan lakukan kepada kita. Everything that is on the surface.

Cassavetes mencoba untuk mendudukkan kita pada posisi Nick, Mabel, ketiga anaknya, maupun peran pembantu lainnya. Bagaimana kita merespon situasi tersebut. Bagaimana kita membuat diri kita terlihat bodoh, hilang arah, perduli dengan pendapat dan perkataan orang lain hanya untuk terlihat baik dimata orang luar, dan bagaimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, jikalau kita beruntung dan berani untuk membuka pikiran untuk mencoba mengerti permasalahan yang terjadi pada orang lain.

Banyak karakter-karakter dalam film Cassavetes adalah alter-egonya sendiri, tetapi tidak ada yang lebih mendekati daripada Mabel. Mabel adalah Cassavetes, entertainer yang eksentrik, pantomim yang suka memparodikan orang di sekitarnya, mistress of ceremonies penuh guyonan.


4. Killing of a Chinese Bookie (1976)

Jika film-film gangster biasanya bangga akan ketangguhan, kemaskulinan, ke bagaimana "keren"nya penampilan mereka, atau kekerasan karakter dan jalan ceritanya, Cassavetes mengambil-alur lain melalui Killing of a Chinese Bookie. Cassavetes mempertanyanya hal-hal diatas dan melihat hal-hal tersebut sebagai pelarian yang tragis dari kehidupan para gangster.

Jika Ingmar Bergman didaulat sebagai sutradara yang paling mengerti jiwa wanita, atau Fassbinder paling mengerti jiwa kelompok gay, maka Cassavetes
adalah yang paling mengerti jiwa lelaki. Cassavetes menggambarkan tuntas bermacam bentuk lelaki dalam berbagai manifestasinya. Tony di Shadows, salesman di Faces, dan kali ini Cosmo dalam Killing of a Chinese Bookie digambarkan  sebagai seorang lelaki pemilik tempat hiburan malam yang rada kinky, sedang terjebak dalam hutang judi sehingga ditugaskan untuk membunuh kepala gangster dari geng Tionghoa agar utangnya lunas.

Cassavetes memakai Ben Gazzara sebagai Cosmo karena image berwibawa dan tegar yang terlihat pada Ben. Cosmo terlihat kokoh secara emosi diluar. Dia tidak membiarkan siapapin, bahkan kekasihnya Rachel untuk mempengaruhi  keputusan atau jalan pikirannya. Dia terus menjalankan show kinky nya baik disaat ramai atau bisnis sedang menurun, dia terlihat dingin bahkan dalam keadaan  terjepit. Obsesinya adalah tampil baik dan keren di segala kesempatan, baik di panggung maupun di luar panggung -- dan sukses. Tetapi Cassavetes ingin agar kita menilai dan berpikir bahwa biaya tertentu yang harus dibayar jika penampilan sematalah yang kita kejar. Cassavetes ingin kita bertanya pada hidup kita apa yang dapat terjadi jika penampilan baik dan sikap keren sebegitu pentingnya.
5. Opening Night (1977)
Ketika Amerika menampilkan sosok aktrisnya yang tengah menua dalam film, kebanyakan tidak berdasar pada kedalaman dan penggalian jiwa dan semangat mereka. Dari mulai high-camp bitchiness dalam All about Eve sampai misoginy dan sinisme dalam Sunset Boulevard, mereka ditampilkan sebagai sosok yang mesti dikasihani dan/atau berbahaya. Dalam Opening Night, Cassavetes mengejawantahkan simpatinya kepada sosok aktris yang menolak konformitas atas pencarian identitas diri dan perjuangan hidupnya. Gena Rowlands sebagai Myrtle Gordon, seorang aktris teater senior dan terkenal, mencoba mentranslasikan karakter dalam sandiwara teater terbarunya berjudul The Second Woman. Myrtle "bertarung" melawan kawan mainnya (diperankan secara brillian oleh Cassavetes sendiri), sutradara, penulis, dan terutama bayang-bayang masa mudanya yang dipersonifikasikan dalam sosok hantu seorang penggemar Myrtle.  Myrtle menolak untuk memainkan perannya sebagaimana telah tertulis dalam naskah dengan alasan naskah tersebut tidak mempunyai "Hope" atau terlalu kelam. Ketika penulis naskah (yang diperankan oleh bintang kawakan Joan Blondell dalam peran terakhir sekaligus terbaiknya ini) mengkonfrontirnya, Myrtle melawan balik dengan dalih untuk yang dia coba tunjukkan adalah refleksi personalnya. Semua film Cassavetes mempunyai benang merah yang sama seperti ini. Perjuangan fisik dan batin yang dialami karakter-karakternya sama dalam film-film awal Cassavetes. Opening Night pun mengeksplorasi celah medan juang antara dirinya sendiri melawan orang-orang di sekitarnya, paralelitas antara penampilan panggung dan keseharian hidupnya, serta kemenangan dan kepuasan dirinya untuk bangkrut dan berani gila melawan rasionalitas yang formulaic.



Film-film John Cassavetes dapat dikatakan sebagai suatu karya seni yang hebat, layaknya karya dari maestro lainnya seperti Carl Theodor Dreyer,Yasujiro Ozu, Robert Bresson, dan Andrei Tarkovsky. Film-film tersebut merubah persepsi, memberi pengetahuan dan pengalaman yang baru, emosi yang baru, otak yang baru, hati, mata dan bahkan kuping yang baru. Visi dari Cassavetes dari film adalah sebuah eksplorasi personal dari dirinya terhadap arti hidup dan kehidupan lain dari orang-orang di sekelilingnya baik yang dia suka atau dia tidak suka.

Dua elemen penting yang selalu ada bila kita membicarakan karya-karya John Cassavetes adalah impresi atau kesan dari improvisasi, walau kita tahu bahwa film-filmnya bukan merupakan suatu bentuk improvisasi, dan satu lagi adalah elemen teknisnya yang terasa "anti-filmis", yang tidak membentuk karakter-karakternya di depan kamera berdasar tanda di lantai, pergerakan kamera dan storyboard untuk menunjukkan dimana aktornya harus berdiri, melainkan digunakan secara hemat ketika dibutuhkan dan performa aktor-aktornyalah yang paling utama. Oleh karena itu ada gaya yang membedakan kualitas akting dan performa film-filmnya, dan itu muncul secara dinamis yang dimulai sejak proses pembuatan skenario, pengambilan gambar, editing, serta cara kerja dengan aktor-aktornya.

Pada saat yang bersamaan pula, karya-karya John Cassavetes, menampilkan sensibilitas artistik kuat yang bersekutu dengan makna naturalism. Walau karakter-karakternya terkadang terlihat aneh, mereka datang dari kehidupan sehari-hari. Mereka hidup dalam suatu lingkungan sosial yang spesifik yang mana aksi dan reaksi mereka merupakan konsekuensi dari sejarah hidup personal yang mereka telah jalani dan dorongan dari lingkungan sekitarnya. Sejalan dengan tendensi yang diasosiasikan dengan naturalism, karakter-karakter Cassavetes, sebagaimana juga diperlihatkan oleh aktor-aktornya, sering kali tidak dapat mengekspresikan atau bahkan mengerti situasi yang sedang mereka jalani. Seperti orang dalam kehidupan nyata, mereka berimprovisasi seiring situatsi tersebut berjalan.


Artikel ini ditulis oleh Yuki Aditya, pemilik dari Cinema Exposure bersama Erdiawan Putra.

2 comments:

  1. Saya pernah pinjam DVD Shadows dari library dan saat menonton terasa benar perbedaan cara film itu dibuat dari editing dan aktingnya. Alhasil nggak saya habisin filmnya. Sehabis baca ini kayaknya musti dicoba lagi plus 4 film di atas, apalagi yang Opening Night itu sounds interesting.

    What a thorough piece of writing!

    BalasHapus