Rabu, 12 Oktober 2011

LAFFEST 2011 #3 : Bincang Blogger Seputar Film Personal Bagi Mereka






Minggu siang. Akhir September.

Cerah. Tidak nampak mendung menantang siang ini. Begitupun dengan terik matahari yang membakar, tidak sebegitu menyengatnya. Sebuah kesempatan yang tepat untuk memulai sebuah pertemuan di Minggu siang ini.

Tercium aroma kopi menebar di ruang tamu. Sesekali dengan mengunyah kue keringnya dengan lahap, Hary (Movienthusiast) asyik menyimak kolom hiburan di koran yang ia baca. Lain lagi dengan dengan Suby (Curhat Sinema) dan Haris (Saya Cerita Film) bersender dengan malas di sofa panjang empuk sambil sesekali tertawa cekikikan. Entah apa yang sedang mereka bincangkan. Sementara Taris (Cinetariz) menyeruput tehnya dengan malu-malu. Berbarengan dengan itu, Amir (Amir at the Movies) muncul di balik pintu dan menebarkan senyum sambil menunjukkan tas kresek dengan ukuran sedang yang disambut dengan gemuruh. Lumayan, ada yang membawa gorengan.


Di ruang tamu. Lebih tepatnya ruang tamu tuan rumah penggagas pertemuan ini. Tiko. Uniknya si tuan rumah nampaknya tak punya kesempatan menyambut para blogger film ini, karena ketika mereka datang, Tiko mendapat kabar mendadak dari kampus yang mengharuskannya untuk bertandang pagi-pagi. Maklum Tiko tengah menjadi panitia sebuah acara kampus. Begitu singkatnya Ibunya Tiko menjelaskan dengan ramahnya.
Namun, rencana tidak bisa diundur, mengingat program LAFFEST yang telah menjadi bagian dari Labirin Film akan segera dilakukan dengan mengundang para blogger ini sebagai salah satu pendukung juga. Jadi ceritanya, untuk tema LAFFEST kali ini adalah “film personal” sebagai benang merah dari rangkaian program yang akan diselenggarakan secara virtual seperti tahun lalu.

Hary menutup korannya, lalu membersikan remah-remah kue yang mengotori celana jeans hitamnya. Amir nyelongsor duduk di samping Taris sambil menawarkan gorengan yang mengebul dengan aroma garing dan panas yang muncul. Taris menyomot tahu isi dan cabe rawit dengan semangat. Menyusul Suby mengikuti dengan menyomot tiga lembar tempe goreng dan cabe rawit hijau mungil sambil senyum-senyum tanpa rasa bersalah ketika Haris meledeknya dengan sinis. 

“Terus gimana nih? Jadi gak kita bahasnya kalau tanpa Tiko?” tanya Hary sambil ikut menyomot pisang goreng dari tas kresek. Melahapnya dengan nikmat.

“Jadi dong,” Suby menyambut meski mulut masih dipenuhi dengan tempe goreng kesukaannya.

“Ada yang tau gak ini program LAFFEST-nya Tiko apa aja?” Amir menimpali.

Hening sejenak. Semuanya tanpa ide.

“Sepertinya dijaga rapat tuh sama Tiko,” ujar Haris. Lalu melanjutkan, “biar bikin penasaran mungkin.”

“Bener tuh. Biar kita-kita para blogger rajin mantengin blognya entar,” Taris tertawa kecil, “tapi kan yang jelas temanya itu film personal, bukan?”

“Iya. Film personal memang,” jawab Hary, “jadi mungkin mau nanya tentang film personal dari kita mungkin?”

“Sepertinya begitu.” Amir mengguman, “emang film personalnya apa nih, Ry?”

Hary tersenyum malu. “Emang kalo Amir apa film personalnya?”

“Lah, malah balik nanya, gimana sih!” kata Amir sedikit tidak terima. Hary tertawa lebar.

“Kalau kakak Amir, sepertinya sudah bisa ditebak, pasti Titanic ya?” kata Tarizsyang merupakan blogger termuda di antara mereka berlima.

“Yeee. Sok tau! Film personal ini yang bagaimana dulu? Film personal kan mengandung banyak artian pada orang yang berbeda. Beberapa orang nganggap film tersebut sebagai film yang sentimental, penuh kenangan pribadi atau sebuah film yang menginspirasi untuk melakukan sesuatu atau berubah menjadi satu hal. Seperti inikah?”

“Ya, seperti itu mungkin garis besarnya,” ujar Suby.

“Hm… baiklah. Ya, kalau ditanya mengenai film personal, jujur saya akan langsung terasosiasi dengan Titanic. Pertama kali saya tonton waktu umur 13 tahun. Punya peranan sentimental sama saya. Termasuk film asing pertama yang saya tonton di bioskop. Eh, ternyata berhasil memesona saya dengan segala konflik, tragedi dan tentu saja, kisah cintanya. Titanic juga sempat saya tonton berulang-ulang dengan banyak orang. Sama keluarga, teman sampai seorang gadis yang dulu sempat saya dekati,” terdengar seruan “cieeee” panjang dengan sorak-sorai membahana. Muka Amir memerah, “yeah, Cinta monyet, I know!” Amir melanjutkan, “Titanic itu kemudian ngenalin saya dengan Kate Winslet. Jadi suka nonton seluruh film-filmnya sebelum membintangi Titanic dan terus menonton peran-perannya di setiap filmnya yang akan datang,” cerita Amir panjang.

“Kira-kira sampai berapa kali tuh nontonnya, Mir?” tanya Haris.

I lost my count. Di bioskop mungkin 6 kali. Tapi semenjak membeli DVD orisinal-nya, saya punya akses untuk menonton film ini kapan saja saya mau.  Mungkin lebih dari 20 kali kalau menonton lewat DVD juga dihitung,” Amir tersenyum.


“Sama. Saya juga sudah tidak ingat berapa kali nonton La Mala Educacion. Mungkin dua puluh kali. Ini nih film personal bagi saya, karena untuk beberapa bagian film ini seperti meresonansikan masa lalu saya sendiri. Juga salah satu karakternya sedikit banyak mirip dengan karakter saya,” ucap Haris menceritakan film personal versinya.

“Oh, ya?” sambut Taris yang kelihatan menyimak dengan serius.

“Iya. Saya bahkan suka banget sama salah satu adegan waktu Padre Manolo bermain gitar dan si kecil Ignacio menyanyikan Moon River dalam versi bahasa Spanyol. Visualisasinya begitu indah dan kemudian diakhiri dengan sebuah kegetiran. Bagi yang sudah menonton, pasti paham maksud saya,”


“Bener banget. Film personal itu memang dirasakan personal, ya. Saya suka sama Simon Birch, udah nonton sampai empat kali. Sederhana saja, lewat kelebihan dan kekurangan Simon Birch, saya jadi lebih bisa menghargai dan mensyukuri diri dan hidup saya,” ucap Suby mencoba sedikit berfilosofi dengan tanpa lelah mengunyah tempe gorengnya pula.


“Kalau saya pribadi memilih Toy Story 3, karena ya, apa yang dialami oleh Andy pernah saya alami dan film ini tumbuh bersama saya. Sejauh ini sih sudah ditonton tiga kali. Pertama di bioskop, lalu di DVD, terakhir di TV kabel. Lengkap ya!” Taris tertawa, “saya suka sekali dengan adegan menyentuh terakhir saat Andy mengucapkan salam perpisahan kepada mainan-mainannya. Kalimat terakhir di film itu, so long, partner, bikin saya meraung-raung setiap kali menontonnya,” ucapnya masih meninggalkan tawa.



“Nah, kalo adegan favorit saya di film Titanic itu ketika Jack dan Rose hampir berpisah ketika Rose menaiki kapal penyelamat setelah diyakinkan Cal Hockley bahwa dirinya dan Jack akan menaiki kapal penyelamat lainnya. Rose kemudian menyadari bahwa dirinya tidak dapat berpisah dari Jack, melompat dari kapal penyelamat, kembali ke Titanic untuk mengejar Jack yang juga langsung mengejarnya. Ketika bertemu dengan Jack, Rose kembali mengingatkan Jack, you jump, I jump, right” cerita Amir dengan bersemangat dan sedikit dramatis.

“Kalau film personal saya sih In The Mood For Love. Gak tau, sungguh ngga tau, rasanya begitu personal buat saya, karena saya pernah, bahkan hingga kini, memendam perasaan sebuah cinta terlarang seperti yang dialami oleh Chow Mo-wan dan Su Li-zhen, yang pada akhirnya juga menjadi sebuah rahasia yang ingin saya bisikan dalam lubang sebuah pohon dan kemudian menutupnya rapat-rapat dengan lumpur,” terdengar lagi koor “cieee” membahana namun kali ini dilengkapi dengan seruan “cuit-cuit” serentak. Hary tertawa lebar, melambai-lambaikan tangan agar yang lain berhenti bersorak-sorai, “saya sudah nonton sekitar empat kali dan selalu suka setiap momen yang melibatkan Yumeji’s Theme. Tapi sebenarnya jika harus memilih saya akan memilih momen saat Chow Mo-wan mengucapkan perpisahan kepada Su Li-zhen, memegang tangannya, kemudian meninggalkannya pergi, meskipun katanya itu hanya sebuah rehearsal tetap saja membuat Li-zhen tidak dapat menahan tangisannya,” penjelasan dari Hary tiba-tiba menjadikan suasana ruang tamu begitu romantis setelah sebelumnya mendengar cerita dari Amir.

“Menarik ya. Eh, tapi kadang-kadang kita kan tidak sengaja liat review negatif terhadap film yang kita sukai. Pernah gak sih baca untuk film personal ini?” tanya Amir.


“Hm… sejauh ini belum pernah. Secara film ini memang tidak terlalu banyak peminatnya,” jawab Hary.

“ Iya gak pernah juga. Bukan film kondang sih dan drama biasa banget. Kalaupun ada komentar negatif, ya biarlah. Kan personal,” kata Suby.

“Saya juga belum pernah tuh,” Taris tertawa kecil, “kalau ada mungkin si Moan (Moan and New Line Cinema) yang bilang, apa sih istimewanya film ini?, yang saya lakukan, tampar saja! Tidak, Tidak. Saya tidak sekejam itu. Saya kan manis,” ruang tamu mendadak terasa hening sejenak. Taris cemberut. Kemudian melanjutkan, “Ya, aku jelasin saja apa istimewanya film ini. Kalau review negatif dari Rotten Tomatoes sih saya biarin saja. Yang review kan orang-orang gila seperti Armond White,” Taris mengakhiri.

“Well, so far I haven't heard any bad reviews for this film. And if there are any negative comments, I won’t bother, since they’re entitled for their own opinion,” Haris menimpali.

“Kalau misalnya film personal dari sutradara sendiri ada yang disukai?” tanya Amir.

“I think La Mala Educacion is Almodovar personal favorite since it took ten years for him to make the film,” jawab Haris.

“Sebentar. Ini maksudnya film personal dari sutradara bagaimana ya?” tanya Taris kebingungan.

“Iya. Saya juga belum paham,” ujar Suby.

 “Ini maksudnya film yang dibuat oleh sang sutradara sebagai film personalnya. Contohnya, Cameron Crowe yang membuat Almost Famous karena merupakan semi-autobiografi,” Amir menjelaskan. Seisi ruangan manggut-manggut.

“Oh, begitu. Sebenarnya tidak ada yang bener-bener favorit sih, tapi saya sangat menikmati Almost Famous tadi. Terutama hubungan ibu dan anak,” jelas Suby.

 “Itu, In America dari Jim Sheridan bagus tuh. Film ini adalah sebuah semibiopik juga tentang dirinya di saat berimigrasi ke Amerika,” Hary menimpali dengan menawarkan rekomendasi.


“Hmmm...
 personal movie dari seorang sutradara yang paling saya suka, mungkin The Pianist karya Roman Polanski. Ini sebuah film yang ia buat berdasarkan pengalaman pribadinya ketika terlibat dan hampir menjadi korban Nazi dalam Perang Dunia II. Polanski, menurut saya, mampu menggambarkan film tersebut dengan pedih namun sangat indah dan menyentuh,” kata Amir. Kemudian menggigit bagian terakhir dari pisang goreng di tangannya.


Gorengan di meja serta kue kering yang disuguhkan oleh Ibunya Tiko nampak semakin menipis saja. Apalagi sepertinya mereka belum sempat sarapan.

“Ini Tiko pulang jam berapa, sih?” tanya Suby sambil menyomot tempe goreng yang masih tersisa di meja. Mendengar pertanyaan itu, yang lain mengangkat bahu. Menyiratkan untuk menunggu saja.

Tidak lama terjebak dalam ruangan hening hanya ditemani gigitan sedikit ramai di mulut karena kunyahan gorengan, pintu ruang tamu terbuka. Menyembul sesosok makhluk berkulit putih berkacamata. Ia tersenyum lebar berharap kehadirannya tidak begitu terlambat.

“Wah, Tiko panjang umur nih.”

Ditulis oleh Awya (AwyaNgobrol)


*****

Bincang Blogger merupakan sebuah perbincangan imajiner yang ditulis dan dinarasikan berdasarkan sejumlah pertanyaan yang dijawab oleh para partisipan. Beberapa dialog dikreasikan khusus untuk menyambung benang merah tanpa merusak inti jawaban yang diberikan oleh para partisipan. 

Berikut beberapa link untuk review dari masing-masing film personal pilihan blogger partisipan:
Haris -  La Mala Educacion: http://chaosisgreen.multiply.com/reviews/item/46

0 comments:

Poskan Komentar