Minggu
siang. Akhir September.
Cerah. Tidak nampak
mendung menantang siang ini. Begitupun dengan terik matahari yang membakar,
tidak sebegitu menyengatnya. Sebuah kesempatan yang tepat untuk memulai sebuah
pertemuan di Minggu siang ini.
Tercium aroma kopi
menebar di ruang tamu. Sesekali dengan mengunyah kue keringnya dengan lahap,
Hary (Movienthusiast) asyik menyimak kolom hiburan di koran yang ia baca. Lain
lagi dengan dengan Suby (Curhat Sinema) dan Haris (Saya Cerita Film) bersender
dengan malas di sofa panjang empuk sambil sesekali tertawa cekikikan. Entah apa
yang sedang mereka bincangkan. Sementara Taris (Cinetariz) menyeruput tehnya
dengan malu-malu. Berbarengan dengan itu, Amir (Amir at the Movies) muncul di
balik pintu dan menebarkan senyum sambil menunjukkan tas kresek dengan ukuran
sedang yang disambut dengan gemuruh. Lumayan, ada yang membawa gorengan.
Di ruang tamu. Lebih
tepatnya ruang tamu tuan rumah penggagas pertemuan ini. Tiko. Uniknya si tuan
rumah nampaknya tak punya kesempatan menyambut para blogger film ini, karena
ketika mereka datang, Tiko mendapat kabar mendadak dari kampus yang
mengharuskannya untuk bertandang pagi-pagi. Maklum Tiko tengah menjadi panitia
sebuah acara kampus. Begitu singkatnya Ibunya Tiko menjelaskan dengan ramahnya.
Namun, rencana tidak
bisa diundur, mengingat program LAFFEST yang telah menjadi bagian dari Labirin
Film akan segera dilakukan dengan mengundang para blogger ini sebagai salah
satu pendukung juga. Jadi ceritanya, untuk tema LAFFEST kali ini adalah “film personal”
sebagai benang merah dari rangkaian program yang akan diselenggarakan secara
virtual seperti tahun lalu.
Hary menutup korannya,
lalu membersikan remah-remah kue yang mengotori celana jeans hitamnya. Amir nyelongsor
duduk di samping Taris sambil menawarkan gorengan yang mengebul dengan aroma
garing dan panas yang muncul. Taris menyomot tahu isi dan cabe rawit dengan
semangat. Menyusul Suby mengikuti dengan menyomot tiga lembar tempe goreng dan
cabe rawit hijau mungil sambil senyum-senyum tanpa rasa bersalah ketika Haris
meledeknya dengan sinis.
“Terus gimana nih? Jadi
gak kita bahasnya kalau tanpa Tiko?” tanya Hary sambil ikut menyomot pisang
goreng dari tas kresek. Melahapnya dengan nikmat.
“Jadi dong,” Suby
menyambut meski mulut masih dipenuhi dengan tempe goreng kesukaannya.
“Ada yang tau gak ini
program LAFFEST-nya Tiko apa aja?” Amir menimpali.
Hening sejenak.
Semuanya tanpa ide.
“Sepertinya dijaga
rapat tuh sama Tiko,” ujar Haris. Lalu melanjutkan, “biar bikin penasaran
mungkin.”
“Bener tuh. Biar
kita-kita para blogger rajin mantengin blognya entar,” Taris tertawa kecil, “tapi
kan yang jelas temanya itu film personal,
bukan?”
“Iya. Film personal
memang,” jawab Hary, “jadi mungkin mau nanya tentang film personal dari kita
mungkin?”
“Sepertinya begitu.”
Amir mengguman, “emang film personalnya apa nih, Ry?”
Hary tersenyum malu.
“Emang kalo Amir apa film personalnya?”
“Lah, malah balik
nanya, gimana sih!” kata Amir sedikit tidak terima. Hary tertawa lebar.
“Kalau kakak Amir,
sepertinya sudah bisa ditebak, pasti Titanic
ya?” kata Tarizsyang merupakan blogger termuda di antara mereka berlima.
“Yeee. Sok tau! Film
personal ini yang bagaimana dulu? Film personal kan mengandung banyak artian
pada orang yang berbeda. Beberapa orang nganggap film tersebut sebagai film
yang sentimental, penuh kenangan pribadi atau sebuah film yang menginspirasi
untuk melakukan sesuatu atau berubah menjadi satu hal. Seperti inikah?”
“Ya, seperti itu
mungkin garis besarnya,” ujar Suby.
“Hm… baiklah. Ya, kalau
ditanya mengenai film personal, jujur saya akan langsung terasosiasi dengan Titanic. Pertama kali saya tonton waktu
umur 13 tahun. Punya peranan sentimental sama saya. Termasuk film asing pertama
yang saya tonton di bioskop. Eh, ternyata berhasil memesona saya dengan segala
konflik, tragedi dan tentu saja, kisah cintanya. Titanic juga sempat saya tonton berulang-ulang dengan banyak orang.
Sama keluarga, teman sampai seorang gadis yang dulu sempat saya dekati,” terdengar
seruan “cieeee” panjang dengan sorak-sorai membahana. Muka Amir memerah, “yeah,
Cinta monyet, I know!” Amir melanjutkan,
“Titanic itu kemudian ngenalin saya
dengan Kate Winslet. Jadi suka nonton seluruh film-filmnya sebelum membintangi Titanic dan terus menonton peran-perannya
di setiap filmnya yang akan datang,” cerita Amir panjang.
“Kira-kira sampai
berapa kali tuh nontonnya, Mir?” tanya Haris.
“I lost my count. Di bioskop mungkin 6 kali. Tapi semenjak membeli
DVD orisinal-nya, saya punya akses untuk menonton film ini kapan saja saya
mau. Mungkin lebih dari 20 kali kalau
menonton lewat DVD juga dihitung,” Amir tersenyum.
“Sama. Saya juga sudah
tidak ingat berapa kali nonton La Mala
Educacion. Mungkin dua puluh kali. Ini nih film personal bagi saya, karena
untuk beberapa bagian film ini seperti meresonansikan masa lalu saya sendiri.
Juga salah satu karakternya sedikit banyak mirip dengan karakter saya,” ucap
Haris menceritakan film personal versinya.
“Oh, ya?” sambut Taris
yang kelihatan menyimak dengan serius.
“Iya. Saya bahkan suka
banget sama salah satu adegan waktu Padre Manolo bermain gitar dan si kecil
Ignacio menyanyikan Moon River dalam
versi bahasa Spanyol. Visualisasinya begitu indah dan kemudian diakhiri dengan
sebuah kegetiran. Bagi yang sudah menonton, pasti paham maksud saya,”
“Bener banget. Film
personal itu memang dirasakan personal, ya. Saya suka sama Simon Birch, udah nonton sampai empat kali. Sederhana saja, lewat
kelebihan dan kekurangan Simon Birch, saya jadi lebih bisa menghargai dan
mensyukuri diri dan hidup saya,” ucap Suby mencoba sedikit berfilosofi dengan
tanpa lelah mengunyah tempe gorengnya pula.
“Kalau saya pribadi
memilih Toy Story 3, karena ya, apa yang dialami oleh Andy pernah saya alami
dan film ini tumbuh bersama saya. Sejauh ini sih sudah ditonton tiga kali.
Pertama di bioskop, lalu di DVD, terakhir di TV kabel. Lengkap ya!” Taris
tertawa, “saya suka sekali dengan adegan menyentuh terakhir saat Andy
mengucapkan salam perpisahan kepada mainan-mainannya. Kalimat terakhir di film
itu, so long, partner, bikin saya
meraung-raung setiap kali menontonnya,” ucapnya masih meninggalkan tawa.
“Nah,
kalo adegan favorit saya di film Titanic
itu ketika
Jack dan Rose hampir berpisah ketika Rose menaiki kapal penyelamat setelah
diyakinkan Cal Hockley bahwa dirinya dan Jack akan menaiki kapal penyelamat
lainnya. Rose kemudian menyadari bahwa dirinya tidak dapat berpisah dari Jack,
melompat dari kapal penyelamat, kembali ke Titanic untuk mengejar Jack yang juga langsung mengejarnya. Ketika bertemu dengan Jack, Rose kembali mengingatkan
Jack, you jump, I jump, right” cerita
Amir dengan bersemangat dan sedikit dramatis.
“Kalau film personal saya sih In
The Mood For Love. Gak tau, sungguh ngga
tau, rasanya begitu personal buat saya, karena saya pernah, bahkan hingga kini,
memendam perasaan sebuah cinta terlarang seperti
yang dialami oleh Chow Mo-wan dan Su Li-zhen, yang pada akhirnya juga menjadi
sebuah rahasia yang ingin saya bisikan dalam lubang sebuah pohon dan kemudian
menutupnya rapat-rapat dengan lumpur,” terdengar lagi koor “cieee” membahana
namun kali ini dilengkapi dengan seruan “cuit-cuit” serentak. Hary tertawa
lebar, melambai-lambaikan tangan agar yang lain berhenti bersorak-sorai, “saya
sudah nonton sekitar empat kali dan selalu suka setiap momen yang melibatkan Yumeji’s Theme. Tapi sebenarnya jika
harus memilih saya akan memilih momen saat Chow Mo-wan mengucapkan perpisahan
kepada Su Li-zhen, memegang tangannya, kemudian meninggalkannya pergi, meskipun
katanya itu hanya sebuah rehearsal tetap
saja membuat Li-zhen tidak dapat menahan tangisannya,” penjelasan dari Hary
tiba-tiba menjadikan suasana ruang tamu begitu romantis setelah sebelumnya mendengar
cerita dari Amir.
“Menarik ya. Eh, tapi kadang-kadang kita kan tidak sengaja liat review negatif terhadap film yang kita sukai. Pernah gak sih baca untuk film personal ini?” tanya Amir.
“Menarik ya. Eh, tapi kadang-kadang kita kan tidak sengaja liat review negatif terhadap film yang kita sukai. Pernah gak sih baca untuk film personal ini?” tanya Amir.
“Hm… sejauh ini belum pernah. Secara film ini
memang tidak terlalu banyak peminatnya,” jawab Hary.
“ Iya gak pernah juga. Bukan film kondang sih dan drama
biasa banget. Kalaupun ada komentar negatif, ya biarlah. Kan personal,” kata
Suby.
“Saya juga belum pernah tuh,” Taris tertawa kecil, “kalau ada mungkin si
Moan (Moan and New Line Cinema) yang bilang, apa sih istimewanya film ini?,
yang saya lakukan, tampar saja! Tidak, Tidak. Saya tidak sekejam itu. Saya kan
manis,” ruang tamu mendadak terasa hening sejenak. Taris cemberut. Kemudian
melanjutkan, “Ya, aku jelasin saja apa istimewanya film ini. Kalau review
negatif dari Rotten Tomatoes sih saya biarin saja. Yang review kan orang-orang
gila seperti Armond White,” Taris mengakhiri.
“Well, so far I haven't heard any bad
reviews for this film. And if there are any negative comments, I won’t bother,
since they’re entitled for their own opinion,” Haris menimpali.
“Kalau misalnya film personal dari sutradara sendiri ada yang
disukai?” tanya Amir.
“I think La Mala Educacion is Almodovar
personal favorite since it took ten years for him to make the film,” jawab Haris.
“Sebentar. Ini maksudnya film personal dari sutradara bagaimana
ya?” tanya Taris kebingungan.
“Iya. Saya juga belum paham,” ujar Suby.
“Ini maksudnya film yang
dibuat oleh sang sutradara sebagai film personalnya. Contohnya, Cameron Crowe
yang membuat Almost Famous karena
merupakan semi-autobiografi,” Amir menjelaskan. Seisi ruangan manggut-manggut.
“Oh, begitu. Sebenarnya tidak ada yang bener-bener favorit
sih, tapi saya sangat menikmati Almost
Famous tadi. Terutama hubungan ibu dan anak,” jelas Suby.
“Itu, In America dari Jim Sheridan bagus tuh. Film ini adalah sebuah
semibiopik juga tentang dirinya di saat berimigrasi ke Amerika,” Hary menimpali
dengan menawarkan rekomendasi.
“Hmmm... personal movie dari seorang sutradara yang paling saya suka, mungkin The Pianist karya Roman Polanski. Ini sebuah film yang ia buat berdasarkan pengalaman pribadinya ketika terlibat dan hampir menjadi korban Nazi dalam Perang Dunia II. Polanski, menurut saya, mampu menggambarkan film tersebut dengan pedih namun sangat indah dan menyentuh,” kata Amir. Kemudian menggigit bagian terakhir dari pisang goreng di tangannya.
Gorengan di meja serta kue kering yang disuguhkan
oleh Ibunya Tiko nampak semakin menipis saja. Apalagi sepertinya mereka belum
sempat sarapan.
“Ini Tiko
pulang jam berapa, sih?” tanya Suby sambil menyomot tempe goreng yang masih
tersisa di meja. Mendengar pertanyaan itu, yang lain mengangkat bahu.
Menyiratkan untuk menunggu saja.
Tidak lama
terjebak dalam ruangan hening hanya ditemani gigitan sedikit ramai di mulut
karena kunyahan gorengan, pintu ruang tamu terbuka. Menyembul sesosok makhluk
berkulit putih berkacamata. Ia tersenyum lebar berharap kehadirannya tidak
begitu terlambat.
“Wah,
Tiko panjang umur nih.”
Ditulis oleh Awya (AwyaNgobrol)
*****
Bincang Blogger merupakan sebuah perbincangan imajiner yang
ditulis dan dinarasikan berdasarkan sejumlah pertanyaan yang dijawab oleh para
partisipan. Beberapa dialog dikreasikan khusus untuk menyambung benang merah
tanpa merusak inti jawaban yang diberikan oleh para partisipan.
Berikut beberapa link untuk review dari masing-masing film
personal pilihan blogger partisipan:
Taris – Toy Story 3 http://cinetariz.blogspot.com/2010/06/review-toy-story-3.html
Hary – In America http://movienthusiast.com/2011/04/review-in-america-2003/
Haris - La Mala Educacion: http://chaosisgreen.multiply.com/reviews/item/46








0 comments:
Poskan Komentar