Sabtu, 15 Oktober 2011

LAFFEST 2011 #6: LIST FILM PALING PERSONAL

Saya dan Mikhael Tarigan telah membuat dua buah daftar yang masing-masing berisikan film-film paling personal bagi kami. Yang tidak disangka dari proses pembuatan daftar ini adalah bagaimana kita berdua dipancing untuk benar-benar memilah film yang memiliki koneksi esensial bagi kami. We hope you enjoy our lists!


25 FILM PALING PERSONAL BAGI MIKHAEL TARIGAN

1. FIGHT CLUB (David Fincher) 
Personal reason: semua dari film ini di mata saya sepertinya sempurna. Akting, cerita, editing, dan direksi sutradaranya juga. Tapi yang membuat saya ketagihan pada film ini adalah bagaimana tema sifat kosumen manusia dihubungkan dengan tema psikologis dan juga ide fight club yang dipakai sebagai sarana untuk bisa bebas. 

2. THE 400 BLOWS (Francois Truffaut) 
Personal reason: Kecintaan saya pada film ini berhubungan berat dengan acting Jean-Pierre Leaud yang natural kedalam-dalamnya. Tapi perjalanan Antoine di film ini juga bermain besar di mana dia digambarkan sebagai anak yang nakal dan mencari kebebasan versinya sendiri. Endingnya yang cukup absurd menurut saya juga meninggalkan kesan sendiri yang tidak gampang dilupakan.

3. EAST OF EDEN (Elia Kazan) 
Personal reason: Sebagai penggemar berat James Dean, sebenarnya film inilah yang lebih mengena di hati dibanding Rebel Without A Cause. Kesamaan karakter Dean di film ini dengan Antoine di The 400 Blows juga berkesan. Dari semuanya cerita tentang hubungan Dean dengan ayahnya di film ini yang paling heartbreaking.

4. STAND BY ME (Rob Reiner)
 Personal reason: Seandainya saja saat kecil dulu saya punya teman seperti karakter River Phoenix di sini. Sifat protektif karakter Phoenix terhadap temannya adalah alas an kuat film ini lebih berkesan. Cerita persahabatannya pasti mengena di semua orang yang punya teman dekat. Endingnya belum lagi mengundang air mata.

5. THE HOURS (Stephen Daldry) 
Personal reason: Bisa dibilang inilah film terbaik dari Stephen Daldry hingga kini. Akting kuat, script rapih, dan ceritanya juga interesting. Ketiga wanita di film ini mempunya masalah stress tapi menghadapinya berbeda, di situlah yang membuat saya ingin mempelajari mereka terus setiap menonton film ini.

6. A GUIDE TO RECOGNIZING YOUR SAINTS (Dito Montiel) 
Personal reason: Inilah salah satu film coming-of age versi remaja yang paling emosional buat saya. Bukan saja tema persahabatan yang diangkat tapi juga masalah anak lelaki dengan ayahnya. Robert Downey Jr bermain sebagai versi dewasa sang karakter dan dari situ ceritanya semakin sedih dan emosional mengingat masa lalunya.

7. THE DEVIL WEARS PRADA (David Frankel) 
Personal reason: Semua karakter di film ini work buat saya, belum lagi fashionnya yang menggembirakan mata. Tapi sebenarnya work ethic yang digambarkan di karakter Anne Hathaway yang membuat film ini berpengaruh. Tidak peduli walau karakternya perempuan, tetapi adegan saat Andy Sachs di-interview bos barunya, disitulah momen pentingnya.

8. (500) DAYS OF SUMMER (Marc Webber) 
Personal reason: Alasan personal jujur adalah karena kurang lebih saya juga mengalami apa yang dialami Tom di film ini. Saking cutenya hubungan Tom dan Summer yang menjadi daya tarik film ini. Tapi momen puncak buat saya adalah saat mereka bertemu kembali di park dan di situ Summer menjelaskan semuanya. Hati patah berkeping-keping rasanya.

9. AN EDUCATION (Lone Scherfig) 
Personal reason: Ini lagi satu film yang menonjolkan karakter kuat seorang gadis muda, tapi di film ini Jenny adalah gadis pinta tapi naïf seperti kita anak muda kebanyakan. Pentingnya edukasi dan bimbingan orang tua ditonjolkan film ini sehingga rasanya film ini selalu terasa relevant buat siapa saja.

10. HALF NELSON (Ryan Fleck) 
Personal reason: Mau Ryan Gosling terkenal bagaimana, film inilah awal kekaguman saya pada talent-nya. Sifat idealis dari karakter Daniel Dunn sebagai guru siang hari dan pemakai narkoba malam hari adalah hal yang sebenarnya membuat dia masih pantas dikasihani. Karakternya seperti contoh lelaki yang sudah besar tapi tidak siap tumbuh dewasa.

11. REVOLUTIONARY ROAD (Sam Mendes) 
Personal reason: Kate Winslet dan Leonardo DiCaprio main satu film tampil pol-polan. Itu alasan pertama saya menonton film ini. Tapi saya belajar dari karakter mereka berdua tentang susahnya merawat hubungan rumah tangga dan masalah loyalitas terhadap satu sama lain.

12. CRASH (Paul Haggis) 
Persona reason: Ada yang bilang film ini racist atau juga berlebihan. Buat saya film ini ajaib. Sebegitu banyaknya karakter film ini dan mereka saling menyambung. Belum lagi kita bisa mempelajari sifat-sifat manusia yang diwakili tiap karakter. Entah itu adegan invisible cloak, razia polisi, ataupun saat mobil terbalik, semuanya tidak ada yang terasa dibuat-buat.

13. BILLY ELLIOT (Stephen Daldry) 
Personal reason: Billy Elliot adalah contoh bahwa orangtua tidak bisa mengekang kemauan anaknya. Saya belajar dari film ini bahwa kalau kita menekuni sesuatu walau dianggap sebelah mata oleh orang lain pasti ada buahnya di ujungnya.

14. FANTASTIC MR FOX (Wes Anderson) 
Personal reason: Di saat teman saya tertidur menonton film ini di bioskop, saya malah terkesima dengan animasi sutradara favorit saya yang punya skrip pintar, karakter yang kuat, dan animasinya yang tradisional tapi indah. Temanya tentang second chance bagi si Mr Fox adalah kehebatan disbanding film animasi lainnya yang kadang terasa cupu.

15. MONSTERS INC (Pete Docter) 
Personal reason: Inilah film favorit saya dari Pixar. Film animasi pertama yang berhasil membuat saya menangis karena endingnya. Juga terkesima dengan warnanya yang hingga sekarang masih terasa wah. Belum lagi idenya tentang pabrik yang mempekerjakan monster-monster aneh menakuti anak-anak di mana teriakan anak kecil adalah sumber energi mereka. Kelewat kreatif Pixar ini.

16. LITTLE MISS SUNSHINE (Jonathan Dayton & Valerie Faris) 
Personal reason:Ada si ayah, ibu, kakek, kakak lelaki, paman, dan Olive si ratu cilik. Semuanya adalah gambaran dari keluarga kita. Walau kita merasa sama dengan satu karakter, kita bisa belajar dari yang satunya. Saya merasa sama dengan si paman, tapi ajaran si bapak juga ada benarnya.

17. BROKEBACK MOUNTAIN (Ang Lee) 
Personal reason: Menulis paragraph ini sambil membayangkan adegan Ennis memeluk baju Jack rasanya ingin lagi menonton film kisah cowboy karya Ang Lee ini. Segitulah romantisnya film ini dan kuatnya chemistry antara almarhum Heath Ledger dan Jack Gyllenhaal.

18. THE SIXTH SENSE (M. Night Shyamalan) 
Personal reason: Cerita film ini susah ditebak dan acting si Osment itu buat saya terkagum. Mungin hanya inilah film horror yang saya suka. Adegan pengakuan sang anak di mobil pada ibunya saat macet adalah momen yang mau diulang 100 kali tetap mengundang hujan air mata buat saya.

19. ABOUT A BOY (Chris Weitz & Paul Weitz) 
Personal reason: Kesan dari film ini adalah cerita dan aktingnya yang low profile tidak berlebihan. Selain Fight Club, inilah film yang saya baca bukunya jaman dulu karena suka adaptasinya. Dulu saya merasa sama dengan karakter Nicholas Hoult, tapi sekarang malah merasa ada persamaan dengan karakter Hugh Grant yang sudah besar tapi masih belum bersifat dewasa.

20. VERA DRAKE (Mike Leigh) 
Personal reason: Bagian pertama film ini tidak ada masalah penting, bagian kedualah dimulainya kekuatan akting Imelda Staunton. Hatipun terbagi dua melihatnya, antara marah karena perbuatannya sendiri dan juga kasihan melihat kejujuran dan alasannya yang ada sifat baiknya. Walau dia adalah kriminal, dia juga masih tetap seorang ibu yang menyokong keluarganya.

21. BOY A (John Crowley) 
Personal reason: Kadang saya risih melihat muka lugunya Andrew Garfield meningat umurnya yang sudah besar, tapi untungnya mukanya itu dibutuhkan unutk karakternya yang lama tidak bersosialisasi. Film ini cukup menyentuh di mana film ini mengambil tema publik yang sering men-judge orang dari masa lalunya.

22. THE LIFE AQUATIC WITH STEVE ZISSOU (Wes Anderson) 
Personal reason: Yang saya suka dari film ini adalah ceritanya tentang family yang dysfunctional dan dibuat dengan rasa quirky ala Wes Anderson. Mungkin inilah film Bill Murray yang paling saya sukai. Momen favorit adalah saat semua anggota keluarga ikut ekspidisi dalam submarine-nya.

23. RACHEL GETTING MARRIED (Jonathan Demme) 
Personal reason: Bagaimana film ini tidak dinominasikan untuk Original Screenplay, saya juga tidak mengerti. Karena pastinya film ini terasa begitu nyata alias tidak fiksi melihat acting pemainnya yang penuh dan ceritanya yang patut dilihat bareng keluarga. Ada sifat dari karakter Anne hathway yang pasti kita punya sebagai seorang anak. Momen favorit adalah pertengkarannya dengan mamanya, sedangkan kalimat tentang Mother Theresa adalah kalimat paling powerful di dalam film ini.

24. ROCKNROLLA (Guy Ritchie) 
Personal reason: Inilah film tentang ganster/mafia yang beda dari lainnya. Ceritanya yang sesuka hati dan karakternya yang unik-unik adalah magnet utama film ini. Yang saya pelajari dari film ini hampir semua karakternya kena ganjarannya sendiri ujungnya.

25. STRANGER THAN FICTION (Marc Forster) 
Personal reason: Unik dan aneh adalah reaksi pertama untuk film ini. Tapi untungnya acting dramatik dari Will Ferrell, Emma Thompson, dan Maggie Gyllenhaal membantu film ini dari jauh dari terlihat tidak masuk akal. Setelah menonton film inipun saya bertanya apa saya ini terjebak dalam rutinitas tiap harinya.


25 FILM PALING PERSONAL UNTUK SATRIO NINDYO ISTIKO
 (ALFABETIS)

1. 4.30 (Royston Tan)
Anak kecil itu hanya seorang diri di rumah. Sibuk membuat imajinasi. Sibuk mencari perhatian. Sibuk menghilangkan sepi. Sibuk mengusir sunyi. Mungkin dia sama seperti orang lain yang tak ingin berkawan dengan hampa.

2. CHASING AMY (Kevin Smith)
Si laki-laki tidak pernah melakukan petualangan apa pun. Si perempuan justru memiliki sejuta adegan liar sebagai bukti petualangannya. Ketika mereka bertemu dan saling menyukai, banyak obrolan tajam tentang orientasi seksual, gender, dan hubungan cinta yang keluar.

3. CHOP SHOP (Ramin Bahrani)
Si adik laki-laki terus menerus berjuang demi masa depannya dan kakak perempuannya. Sementara itu, si kakak perempuan memilih caranya sendiri untuk berjuang. Atas nama masa depan yang mereka perjuangkan, mereka berdua terbawa jauh dengan perjuangannya masing-masing. Tapi, ternyata meeka masih bisa saling menerima dan mencinta. Apa adanya.

4. CRIES AND WHISPERS (Ingmar Bergman)
Kakak pertama terbelenggu oleh etika dan si bungsu terbelunggu oleh nafsu. Mereka berdua sedang berada di rumah tempat mereka tumbuh dewasa untuk menemani si anak tengah yang semakin mencintai dan mensyukuri hidup di ujung hidupnya. Bersama dengan mereka, seorang pelayan yang mampu menyayangi manusia dan Tuhan dengan cara yang sederhana dan kuat, terus setia melayani kebutuhan mereka setiap hari. Bukankah setiap manusia ada yang terjebak dengan keadaan yang sama seperti mereka?

5. DECALOGUE, THE (Krzysztof Kielowski)
Sepuluh perintah Tuhan ternyata bukan sekedar peraturan, tapi juga melambangkan berbagai keadaan dimana manusia diuji, baik di mata dirinya sendiri, di mata orang lain, dan di mata Tuhan. Setiap kisah yang mengalir ternyata mengundang tanya dan mempertanyakan kembali pertanyaan itu.

6. ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND (Michel Gondry)
Si laki-laki adalah seorang pemalu dan pendiam. Si perempuan adalah seorang yang spontan dan tidak bisa tenang. Mereka jatuh cinta, bagaikan magnet, lalu saling membenci, lalu kembali cinta, lalu ingin melupakan. Tapi mereka tak pernah bisa lupa. Karena bahkan dalam benci, mereka masih saling mencinta.

7. FEVER, THE (Carlo Gabriel Nero)
Dia seorang perempuan tua. Dengan otak yang tak pernah henti berpikir. Tak pernah berhenti menganalisa. Dunia yang berputar ternyata menyimpan milyaran topik untuk ditelusuri. Tapi, ada topik khusus yang terus menarik perhatian si perempuan tua ini. Tentang si miskin dan si kaya. Tentang pemerintah dan rakyat. Tentang dominator dan yang tertindas. Tentang dia dan hubungannya dengan semua itu.

8. IN THE REALM OF SENSES (Nagisa Oshima)
Dia adalah laki-laki kaya yang sudah beristri dan terbiasa dilayani. Sedangkan, si perempuan adalah pelacur yang dipekerjakan sebagai pembantu di tempat si laki-laki. Mereka memulai kontak dengan kontak fisik. Lambat laun, kontak fisik mengundang kontak hati. Lalu, kontak hati mengundang kontak pikiran. Saat, tubuh, hati, dan pikiran sudah dikuasai oleh satu hal, ternyata tak ada lagi hal yang bermakna. Maka, mereka semakin terjebak dalam cinta yang mengorbankan segalanya.

9. KOYAANISQATSI (Godfrey Reggio)
Imaji demi imaji terus berjalan tanpa ada yang berbicara mengenai hubungan antara mereka. Apa yang terjadi? Ternyata imaji-imaji itu bisa berbicara dengan telepati. Membisikkan sesuatu ke dalam benak kita. Bercerita tentang sebuah ramalan akan akhir dunia.

10. MAGNOLIA (Paul Thomas Anderson)
Mereka semua pernah menanam keputusan. Sekarang, mereka menuai buah penyesalan dari pohon keputusan mereka itu. Ada yang mengenali buah yang sudah dipetik hingga ke akar dari sang pohon. Tapi, ada juga yang sudah tak mampu lagi mengingatnya. Ada pula yang merasa bahwa penyesalan itu bukan datang dari mereka, melainkan datang dengan tali yang dilempar oleh orang lain di masa lalu dan masih menjerat mereka hingga sekarang. Apapun itu, mereka hanya ingin keluar dari rasa penyesalan mereka.

11. ME AND YOU AND EVERYONE WE KNOW (Miranda July)
Ini era digital. Emosi kita tak hanya bisa dikeluarkan secara lisan dan tulisan. Tapi, juga berupa data dan gambar. Maka, terbentuklah bayangan dari dunia nyata. Bayangan yang hidup di benak kita, komputer kita, dan alat perekam audio maupun visual kita. Bila emosi kita timbul dari dunia bayangan itu berada, apakah Ia juga sebuah perasaan yang nyata?

12. MEREKA BILANG SAYA MONYET! (Djenar Maesa Ayu)
Ia adalah perempuan yang diberi kutukan dan anugerah sekaligus. Kutukuannya adalah masa lalu kelam yang masih terus menghantui. Sedangkan anugerahnya adalah untuk menuliskan cerita. Saat Ia menggunakan anugerahnya untuk menulis tentang kutukannya, ternyata kutukan itu tak kunjung pergi. Tapi, berputar dan perlahan membentuk kabut di hati dan pikirannya.

13. NETWORK (Sidney Lumet)
Ini era televisi. Ini era realita bagaikan koin dengan dua sisi berbeda. Sisi cantik dan buruk rupa. Saat koin itu dilempar ke penonton, maka penonton mendapatkan keduanya. Permasalahannya adalah sisi yang cantik sangatlah susah untuk ditolak walaupun sisi yang buruk rupa sudah jelas berbahaya.

14. OPERA JAWA (Garin Nugroho)
Kebenaran akan terus diperjuangkan walaupun kebenaran setiap orang itu bisa berbeda-beda. Maka, semua pun diadu. Otot. Benda mati. Otak. Hati. Apa yang tersisa di atas tanah? Nyaris tak ada. Karena semua sudah lompat ke dalam lautan emosi.

15. ORDET (Carl Theodor Dreyer)
Tuhan dan agama. Hidup dan mati. Logika dan perasaan. Hmm....

16. PIANO TEACHER, THE (Michael Haneke)
Apa yang terjadi di puncak tubuh manusia sungguh berbeda dengan apa yang terjadi di pangkal selangkannya. Kontra demi kontra terus terjadi. Keduanya selalu ingin didahulukan. Itu yang terjadi pada si wanita yang genius dalam permainan pianonya ini. Pelan-pelan, Ia mulai lupa kalau yang menjadikannya manusia ada di dalam dadanya itu sendiri. Bukan di puncak tubuh atau di pangkal selangkangan.

17. PLEASE GIVE (Nicole Holofcener)
Menjadi terlalu ramah sudah dianggap menyebalkan. Menjadi komentator sinis, pintar, dan tajam dianggap lebih terpuji dan jujur. Percaya kepada orang lain sudah jadi hal yang salah untuk dilakukan. Fokus kepada diri sendiri menjadi hal yang jauh lebih baik agar bisa lebih toleran kepada orang lain. Kemudian, ada satu di antara mereka yang mulai bertanya dengan kondisi ini. Pertanyaannya adalah: Apa kriteria orang baik masih sama seperti dulu?

18. SPRING, SUMMER, FALL, AUTUMN, AND... SPRING (Kim Ki Duk)
Orang tua mengajarkan si anak kecil dengan cinta melalui cara memberikan penghargaan dan hukuman atas kewajiban yang dijalakannya. Saat si anak kecil beranjak dewasa, kesalahan pun menjadi hal yang tak luput untuk dilakukannya. Pada akhirnya, si anak kecil pun menyadari bahwa orang tua itu tidak hanya mengajaarnya dengan cinta, tapi juga ketakutan dan penyesalan dari pengalaman pribadinya.

19. SYNECDOCHE, NEW YORK (Charlie Kaufman)
Ia ingin meraih kebahagiaan dalam setiap bidang kehidupannya. Untuk meraihnya, Ia mengikuti kata hatinya. Ia juga mengikuti sistem kehidupan yang dijalani oleh manusia-manusia lainnya. Saat kekecewaan, ketakutan, dan penyesalan datang, Ia berusaha berpegangan pada apa yang Ia punya. Ketika Ia tak punya apa-apa, maka Ia mencari penggantinya atau berusaha memperbaiki kerusakan apa apa yang telah Ia punya dahulu. Terus menerus Ia melakukan itu semua hingga Ia tak tahan dan menumpahkannya melalui teater. Tapi, mungkin hidup adalah misteri yang luar biasa besarnya hingga untuk benar-benar menguak semuanya, kita perlu mati.

20. TAXI ZUM KLO (Frank Ripploh)
Ia adalah petualang. Hanya dengan bertualang, Ia bisa merasakan tenang. Saat diikat oleh komitmen, Ia pun bertindak bagai kuda liar. Namun, kuda liar ini pelan-pelan mulai menyukai proses penjinakkannya. Hatinya pun terbelah. Antara kembali atau berhenti bertualang.

21. TOKYO STORY (Yasujiro Ozu)
Mereka datang untuk menemui anak dan cucunya. Tapi, orang tua dan anak memang selalu menyimpan banyak konflik. Anehnya, konflik antara orang tua dan anak itu tidaklah seperti konflik yang memiliki solusi. Mereka seperti konflik yang hinggap di hati keduanya hingga ajal memanggil.

22. TREE OF LIFE, THE (Terrence Malick)
Ia mencoba menelaah kehidupannya. Kenapa Ia menjadi dirinya yang sekarang? Lalu, Ia sadar akan keterlibatan keluarganya sehingga membentuk dirinya yang sekarang. Lalu, Ia mulai berpikir bahwa pengalamannya pun pernah dirasakan oleh banyak orang asing lainnya. Lalu, Ia mulai berpikir bahwa orang tuanya dan orang tua dari kebanyakan orang lain itu pun juga dipengaruhi oleh keluarga mereka terdahulu. Lalu, Ia mulai berpikir hingga ke pangkal penciptaan manusia pertama yang menjadi sumber akan apa yang terjadi pada manusia-manusia berikutnya. Lalu, Ia mulai berpikir tentang dunia tempat semua manusia ini tinggal. Lalu, Ia sadar. Tuhan memang ada dan berada di balik semua ini. Tapi, kenapa Tuhan memiliki keadilan dan cara kerja yang selalu tak pernah bisa benar-benar dipahami oleh manusianya? Mungkin itu cara Tuhan menunjukkan kebesarannya, yaitu dengan menunjukkan kekuasaan dan keterbatasan manusia sekaligus.

23. UNBEARABLE LIGHTNESS OF BEING, THE (Philip Kaufman)
Kenapa manusia bisa mudah menyakiti manusia lain? Terlebih lagi, mengapa manusia bisa memiliki sejuta cara untuk melakukannya? Si perempuan berambut pendek itu berusaha mengerti akan hal ini. Tapi, Ia tidak bisa. Ia tetap melihat bahwa apa yang suaminya lakukan dengan bergonta-ganti pasangan mungkin tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para penggerak peperangan. Tapi, Ia juga melihat suaminya penuh cinta kasih. Hatinya pun menjadi rapuh dan ringan. Mengapa manusia bisa seperti ini?

24. UNCLE BOONMEE WHO CAN RECALL HIS PAST LIVES (Apichatpong Weerasethakul)
Ia mengingatkan saya pada kehidupan orang Indonesia. Mistis. Aneh. Nyata. Tiap kemistisan yang muncul bisa saya kenali dalam kisah yang telinga saya dengar. Kemudian, kepekaan relasi antara dunia mistis dengan kondisi ironis dan kebinatang-binatangan dari manusia muncul dalam gambar-gambar diam itu. Saya pun terenyuh.

25. WAKING LIFE (Richard Linklater)
Life not like a box full of chocolates like Forrest Gump's mother said. Life is like a box full of surprises and paradoxes.

0 comments:

Poskan Komentar