Rabu, 09 November 2011

Review: The Ides of March


Directed by GEORGE CLOONEY written by GEORGE CLOONEY, GRANT HESLOV, BEAU WILLIMON cast RYAN GOSLING, GEORGE CLOONEY, PHILIP SEYMOUR HOFFMAN, PAUL GIAMATTI, MARISA TOMEI, EVAN RACHEL WOOD released in 2011

BINTANG


Tahun ini George Clooney boleh mendapat banyak pujian untuk penampilannya di film baru karya Alexander Payne, The Descendants. Tapi The Ides of March adalah bukti kuat bahwa ada talenta besar dibalik karisma George Clooney yang membuatnya banyak disukai. Film politik ini tidak hanya disutradarainya, tapi juga dibintangi dan ditulisnya bersama Grant Heslov, kolaboratornya di Good Night, and Good Luck, dan juga Beau Willimon yang menulis play Farragut North berdasarkan pengalamannya bermain politik.

Di film ini Philip Seymour Hoffman bermain sebagai senior campaign manager Paul Zara dengan anak didiknya Stephen Meyers (Ryan Gosling) yang juga mastermind dibalik kampanye Mike Morris sang kandidat presiden baru diperankan oleh George Clooney. Bisa dibayangkan total karisma antara Gosling dan Clooney tiap mereka berhadapan atau kekuatan akting antara Gosling dan Hoffman saat mereka berdebat. Kalau ada satu hal pasti yang kita tahu dari politik sebagai orang awam adalah bahwa di dalamnya penuh kecurangan dan film ini dengan jujur mengkonfirmasi kenyataan tersebut.

Tema yang diangkat film ini adalah loyalitas terhadap majikan, betapa korupnya moral pemain politik, dan juga hal -hal yang dihalalkan mereka untuk sukses. Meyers dan Zara ini adalah duo kompak yang akan membawa kesuksesan untuk Morris. Tapi ketika Meyers melewati lingkaran mainnya dengan berkompromi dengan lawan mainnya, semuanya berubah dan diperburuk ketika dia bertemu dengan intern muda dan cantik Molly yang ternyata punya rahasia besar walau jam terbangnya masih rendah di dunia politik. Belum lagi ada Ida, seorang jurnalis yang cekatan menggali berita terpanas.


Jangan kira The Ides of March akan menjadi film politik dengan jalan cerita rumit penuh istilah politik yang jarang kita dengar. Jalan cerita film ini cukup simpel dan justru sangat efektif dalam membangun klimaksnya. Kita diperlihatkan kepada sosok Meyers yang masih muda dan juga berambisi. Selalu ada kelemahan pada tiap manusia, di mana Meyers ini terlihat prima dan sukses dan juga punya prinsip teguh di dunia politik, titik lemahnya adalah wanita dan ingin tahu rahasia lawan mainnya.

The Ides of March meninggalkan kesan lebih baik dari pada yang saya bayangkan. Review awal ada yang mengatakn film ini terlalu Amerika dan kenyataannya memang film ini dibuat berdasarkan permainan politik di Amerika. Tapi rasanya apa yang diceritakan film ini juga menggambarkan permainan politik di negara lain. Skrip yang ditulis oleh 3 pria ini terasa rapiih dan tegas. Ada momen yang tenang di dalamnya, tapi begitu masalah muncul film ini terasa mendebarkan dengan konflik-konflik yang ditawarkannya.

The Ides of March buat saya adalah salah satu film terbaik tahun ini. Walau ceritanya tidak begitu dalam, film ini lebih patut dilihat untuk permainan akting dari para aktor dan aktrisnya. Ada beberapa momen di mana mata Ryan Gosling seperti membelalak saat situasinya sedang gawat dan wajahnya terdiam dalam shock. Walau jauh dari aktingnya di Blue Valentine, inilah penampilan terbaik Gosling tahun ini. Eva Rachel Wood muncul sebagai surpirse di film ini. Dengan karakternya yang misterius, penampilannya mengundang decak kagum sekaligus simpati.

Ada dua momen terbaik di film ini. Pertama ialah ketika Meyers dan Zara berdebat pertama kalinya di balik bendera besar Amerika dengan ditemani suara ramin sorak sorai penonton di depan panggung. Kedua adalah ketika Meyers dan Morris berhadapan muka mengeluarkan A-game mereka di pojok gelap dapur restoran. Ketegangan konflik yang menjadi klimaks film ini membuat film seperti film political thriller. Inilah contoh film 2011 yang patut mendapat perhatian lebih dengan akting kuat dan skrip yang rapih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar