Senin, 21 November 2011

Review: My Week With Marilyn



Directed by SIMON CURTIS written by ADRIAN HODGES cast MICHELLE WILLIAMS, EDDIE REDMAYNE, KENNETH BRANAGH, JUDI DENCH, EMMA WATSON, DOMINC COOPER released in 2011

BINTANG



My Week With Marilyn dibuka dengan klip di mana Michelle Williams sedang bernyanyi sebagai Marilyn Monroe. Selama adegan tersebut kita bisa melihat dan mempelajari jika aktris di layar besar itu mempunyai kemiripan dengan Marilyn Monroe. Banyak yang beranggap merasa bahwa ada aktris lain yang lebih mirip Marilyn Monroe ketimbang dirinya, tapi cara Williams menangkap daya tarik sensual Marilyn terlihat sangat tidak dipaksa. Mulai dari bibirnya, desahannya, pinggulnya, hingga personanya ditangkap dengan tepat oleh Williams.


Seperti judul film yang menunjukkan bahwa cerita ini dilihat dari diari seorang pemuda bernama Colin Clark yang bekerja sebagai asisten ketiga untuk sutradara Sir Laurence Olivier selama produksi film "The Prince dan Showgirl." Colin hanyalah pemuda yang didorong keinginan dan gairahnya untuk bekerja di industri perfilman. Untung baginya, di awal karirnya Marilyn datang untuk syuting pertama kalinya ke Inggris, dan cerita mereka dimulai.

Sudah lama saya berusaha untuk menemukan siapa yang menulis skenario untuk film ini yang ternyata ditulis oleh penulis naskah untuk televisi dan film Inggris Adrian HodgesSejak awal, saya benar-benar menyukai film ini. Skor musik, sinematografi, dan juga art directionnya, semuanya memberikan kesan ceria dan semangat. Tapi skenarionya hanya membuat film ini indah ... untuk bagian pertama.

Kenneth Branagh muncul 
menarik perhatian Oscar dengan perannya sebagai Laurence Olivier yang penuh disiplin dan berwibawa. Marilyn sendiri adalah seorang method actress yang cara bekerjanya sangat tidak kompatibel dengan Olivier. Marilyn yang kita lihat di layar besar sangatlah berbeda di lokasi syuting. Dirinya merasa terasing di lokasi di mana dia sudah terbiasa bekerja di set Hollywood. Olivierpun semakin kesal melihat etos kerja Marilyn yang sering menghilang atau telat datang. Belum lagi Marilyn lebih memilih mencari pendapat dari tutornya daripada sutradanya sendiri.

Olivier melihat Marylin sebagai beban, tetapi yang kita lihat justru Marilyn yang sendiri dan tidak punya teman dekat dan pemalu. Ada beberapa orang yang memberinya support seperti istri Olivier, Vivian Leigh dan juga Judi Dench dalam peran kecil sebagai Dame Sybil Thorndike dan tentu saja Colin Clark (Eddie Redmayne) yang membawanya untuk tur setelah suaminya Arthur Miller meninggalkannya ke Amerika. Sangat menarik untuk melihat bagaimana berantakan produksi film “The Prince and The Showgirl" dan bagaimana intens setiap saat antara Marilyn dan Olivier di set. Tapi ketika kisah asmara antara Marilyn dan Colin mengambil bagian, semangat film ini berjalan menurun.


Michelle Williams benar-benar membawa kedalaman emosional untuk karakternya bukan hanya sekadar meniru bintang film terkenal ini. Bisa dibilang dia memainkan 3 peran di film ini: bintang seksi Marilyn Monroe untuk publik, karakternya yang lucu dan komedik di “The Prince and The Showgirl”, dan juga Marilyn yang asli yang sedih dan bermasalah ketika orang-orang tidak ada. Walaupun ada aktris lain yang terlihat lebih mirip dengan Marilyn Monroe, saya ragu ada yang bisa bermain lebih baik daripada Michelle dalam film ini.

Yang saya tangkapa ada 4 fase untuk Marilyn dalam film ini. Pertama ketika Marilyn baru datang dan cara kerjanya dipertanyakan yang membahayakan kelangsungan produksi film. Fase kedua adalah ketika Marilyn mencari comfort dari Colin. Di situ Marilyn tampil lebih ceria dan persona yang ditamplikannya untuk Colin bukanlah Marilyn Monroe, melainkan figur seorang wanita dengan karakter lugu dan menarik. Di fase ketiga, hubungan Marilyn dan Colin mulai retak dan seperti kata Sybil Thorndike di film ini, “First love is such sweet despair.” Marilyn mulia memasuki fase depresinya. Colinpun melihat sisi fragile dari Marilyn dan masalah-masalah yang dia tidak sangka Marilyn punya. Fase keempat? Harus dilihat endingnya sendiri.

Yang menjadi masalah sepertinya adalah fase ketiga. Cerita menjadi lebih membosankan ketika Marilyn mulai mengungkapkan diri sejati dengan Colin. Terlalu banyak adegan Marilyn sedang putus asa dan terlalu banyak adegan Colin mencoba menenangkannya atau bersikap baik padanya. Simon Curtis seperti tidak pawai menangani fase yang justru penting untuk memeperlihatkan siapa Marilyn Monroe aslinya. Pada akhirnya, bahkan adegan yang paling penting menjadi terlalu antiklimaks. Untungnya, meskipun itu menyeret pada akhirnya, film secara keseluruhan masih dimaafkan. Semuanyapun terbayar lewat permainan akting Michelle Williams yang tidak cukup saya puji sampai ke langit untuk perannya.

Sutradara Simon Curtis mengatakan bahwa My Week With Marilyn bukanlah film biografi melainkan film yang menangkap satu momen dari hidup glamor aktris besar ini, karena film ini menunjukkan Marilyn dari reservasi yang jauh seperti sebuah buku harian seorang anak muda tentang pertemuannya dengan idolanya. Berkat Michelle Williams, kita dapat melihat bagaimana ia merasa berbagai emosi, tapi lewat cerita dari diari Colin Clarke ini kita tahu persis mengapa ia merasa begitu.

Akting kuat dari deretan pemainya benar-benar membantu film ini. Produksi teknis harus mendapatkan perhatian juga. Agak lega untuk melihat Michelle Williams memainkan karakter ceria kali ini. Meskipun sutradara Simon Curtis dan penulis Adrian Hodges tidak bisa benar-benar membawa cerita pertemuan dua orang ini menarik dari awal sampai akhir, My Week With Marilyn masih merupakan film menghibur yang memberitahu kita sebuah kisah manis dari Marilyn Monroe di dalam film adaptasi yang lebih baru dan segar.

2 comments:

  1. wah ini mah bakal masih lama atau bahkan engga masuk tanah air. menurut MT, apakah ada aroma-aroma yang mengundang Oscar dalam film ini? minimal Michelle Williams gitu? :D

    BalasHapus
  2. @Timo: Michelle Williams mah at least dapat nominasi Best Actress buat peran Marilyn Monroenya. Berikutnya Kenneth Branagh role-nya scene stealing.

    Haha, kita mengheningkan cipta deh supaya filmnya masuk ke Indo.

    BalasHapus