Setelah lebih dari 3 minggu tidak menulis review, rasanya terlalu berat menulis full review untuk tiap film. Dikarenakan itu post kali ini lebih ditujukan untuk mengulas 4 film di masa liburan ini yang juga sedang menjadi jagoan di ajang Oscar nanti. Semoga kumpulan ulasan ini bisa membantu sebelum menontonnya nanti.
Edisi 4-in-1 reviews kali ini mencangkup film dari 4 sutradara handal macam Clint Eastwood dengan biopik J. Edgar, Martin Scorsese dengan film 3D pertamanya Hugo, Steven Spielberg dengan film keluarga terbarunya War Horse, dan tidak ketinggalan adaptasi The Girl With the Dragon Tattoo versi Amerika buatan David Fincher. Berikut ulasannya:
J. EDGAR (3/4)
Walau bukan film terbaik tahun ini, rasanya tidak pantas melihat review dan rating jelek untuk film ini. Selain film ini adalah biopik yang cukup membuka mata untuk orang yang tidak kenal J. Edgar Hoover, di mana lagi ada sutradara seumuran Clint Eastwood yang bisa membuat film politik seperti ini?
Hoover muda adalah sosok ambisius yang amat mencintai pekerjaannya dan juga negaranya. Ketika ia menjabat menjadi kepala FBI, segala cara dipakainya untuk menberantas kriminalitas, terorisme, dan sekaligus menjaga keamanan Amerika Serikat. Dari mencoba sistem sidik jari untuk mencari penjahat hingga mengkopi dokumen personil rahasia pejabat negara, semua dihalalkannya.
Adalah ibunya (Judi Dench) yang bisa membuatnya sadar dan menenangkannya saat dia resah. Hubungannya dengan tangan kanannya, Clyde Tolson (Armie Hammer), membuat banyak orang percaya Hoover adalah seorang closeted homoseksual, belum lagi kebiasaannya memakai baju ibunya. Di tangan penulis naskah Dustin Lance Black yang menulis untuk film Milk, film ini menyeimbangkan antara karir Hoover dengan kehidupan personilnya. Sayangnya cara flashback yang dipakai Black sering membuat penonton bingung apa yang sedang terjadi.
Make-up yang terlalu tebal di muka Hammer dan Naomi Watts dan lighting yang terlalu gelap adalah dua hal teknis yang mengganggu saat menonton. Walau begitu Leonardo DiCaprio patut dipuji mendalami perannya dari Hoover muda hingga geraknya saat Hoover sudah tua. Dibalik cerita tentang pengalaman Hoover sebagai orang paling berkuasa di politik Amerika pada jamannya, kisah kedekatannya dengan Tolson bisa dibilang kisah romansa yang patut mendapat perhatian.
HUGO (3.5/4)
Dari adegan pertama film ini, saya langsung jatuh cinta. Dari segi tekhnik visual maupun aural, film baru Scorsese adalah juara. Belum lagi ternyata dibalik trailernya yang membuat film ini seperti film anak-anak, film ini adalah film tentang dunia perfilman dan salah satu sutradar di masa awal perfilman, Georges Melies.
Hugo Cabret adalah anak yatim piatu yang tinggal di stasiun kereta api di France. Ketika tertangkap mencuri oleh pemilik toko mainan, Papa Georges (Ben Kingsley), Hugo terpaksa menyerahkan buku berisi blueprint sebuah mesin bernama Automaton. Papa Georges yang mengenal mesin ini marah sedangkan Automaton adalah harapan terkahir Hugo untuk mengenang bapaknya yang sudah meninggal yang juga meniggalkan pesan lewat mesin itu.
Inilah salah satu film diperankan anak kecil tahun ini yang bisa dinikmati (atau lebih dinikmati mungkin) oleh orang dewasa. Banyak adegan dan bagian cerita film ini yang merupakan bentuk salut kepada Georges Melies dan film-filmnya. Martin Scorsese dan penulis naskah John Logan bisa memadukan unsur itu dengan nuansa adventure sambil Hugo dan temannya menguak misteri peninggalan bapaknya dan juga masa lalu Papa Georges.
Siapa sangka film 3D pertama Scorsese bisa menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Kisah perjalanan Hugo ini bisa membangkitkan semangat sambil juga kita belajar tentang persinemaan di awal tahun 1900an dulu.
WAR HORSE (3/4)
Bahkan sebelum film ini dirilis di bioskop, War Horse sudah menjadi unggulan di ajang Oscar nanti. Apa film ini ternyata memang punya kualitas juara? Dari segi tekhnis, seperti biasa Spielberg tidak pernah mengecewakan, apalagi sinematografinya dari Janusz Kaminski. Walau akting dari film ini biasa saja, sinematografi indahnya membantu film ini bercerita perjalanan Albert dari desa di Inggris bertemu kemabli dengan kudanya, Joey, di tengah perang World War I.
Tahukah anda bahwa 14 kuda professional dipakai untuk bermain sebagai Joey, kuda pemeran pertama film ini. Entah di mana saya harus memuji Steven Spielberg. Apa untuk pengarahannya sehingga kuda-kuda tersebut bermain lebih bagus dari para aktornya atau untuk membuat film ini begitu mengharukan?
Tingkat kekerasan dalam sekuens perangnya memang tidak sehebat Saving Private Ryan, tapi War Horse adalah film tradisional untuk keluarga yang menarik emosi melihat betapa kuatnya hubungan Joey dan Albert. Belum lagi dengan musik orkestra halus dari John Williams yang sepertinya selalu mendukung penonton untuk menitikan air mata.
Walau kisah dua sejoli Joey dan Albert ini adalah pusat dari film ini, ada satu adegan di tengah film yang sangat spesial. Di tengah perang, seorang prajurit dari Inggris dan Jerman yang sebenarnya dari sisi bermusuhan malah bekerja sama membantu Joey sang kuda. Ada momen berisi teror di film ini, tapi tak bisa dipungkiri War Horse adalah film yang punya hati yang melibatkan emosi penontonnya. Menginspirasi dan membangkitkan semangat adalah tujuan utamanya.
Tahukah anda bahwa 14 kuda professional dipakai untuk bermain sebagai Joey, kuda pemeran pertama film ini. Entah di mana saya harus memuji Steven Spielberg. Apa untuk pengarahannya sehingga kuda-kuda tersebut bermain lebih bagus dari para aktornya atau untuk membuat film ini begitu mengharukan?
Tingkat kekerasan dalam sekuens perangnya memang tidak sehebat Saving Private Ryan, tapi War Horse adalah film tradisional untuk keluarga yang menarik emosi melihat betapa kuatnya hubungan Joey dan Albert. Belum lagi dengan musik orkestra halus dari John Williams yang sepertinya selalu mendukung penonton untuk menitikan air mata.
Walau kisah dua sejoli Joey dan Albert ini adalah pusat dari film ini, ada satu adegan di tengah film yang sangat spesial. Di tengah perang, seorang prajurit dari Inggris dan Jerman yang sebenarnya dari sisi bermusuhan malah bekerja sama membantu Joey sang kuda. Ada momen berisi teror di film ini, tapi tak bisa dipungkiri War Horse adalah film yang punya hati yang melibatkan emosi penontonnya. Menginspirasi dan membangkitkan semangat adalah tujuan utamanya.
THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO (3.5/4)
Setelah merajai musim penghargaan tahun lalu, David Fincher kembali lagi dengan adaptasi dari novel trilogy karya Stieg Larsson tentang punk hacker Lisbeth Salander dan partnernya, Mikael Blomkvist. Setelah membaca novel pertamanya (tanpa menonton film versi Swedishnya), memang cocok Fincher mengambil proyek film ini. Unsur gelap dengan brutalitasnya di dalam cerita tentang women serial killer, hanya Fincher yang bisa membawa semua adegan dalam buku ini ke layar besar.
Film yang berdurasi 158 menit ini tidak akan terasa selama itu apalagi membosankan. Fincher pernah melakukannya lewat Zodiac yang juga tentang pembunuh serial yang berdurasi panjang itu. Pada awalnya Mikael (Daniel Craig) berusaha mencari tahu menghilangnya Harriet Vanger selama 40 tahun. Setelah mendapat banyak pentunjuk, iapun singkat cerita menggaet Lisbeth sebagai asistennya untuk mencari tahu pembunuh wanita dibalik semuanya itu.
Transformasi Rooney Mara menjadi gothic dan tangguh memang mengundang decak kagum, tapi dengan aksen dan aktingnya yang tidak setengah-setengah, Mara mampu menjadi Lisbeth, seorang wanita muda independen yang tidak mau kalah dari kaum lelaki. Jangan kira Fincher akan membuat versi soft dan mudah dari bukunya. Lihat saja adegan di tengah film yang menggambarkan betapa sadisnya Lisbeth diperkosa secara paksa dan adegan balas dendamnya. Inilah Fincher kembali ke gaya khas-nya yang tidak takut memperlihatkan kebrutalan dalam filmnya.
Walau ada perubahan dalam ceritanya apalagi di bagian terkahirnya, semuanya bisa dimaklumi untuk mempersingkat waktu. Ditemani oleh music score dari trent Reznor dan Aticuss Ross, film ini menguak cerita misterinya sambil membawa penonton ke dalam dunia Lisbeth Salander yang keras dan gelap (dan juga jenius). Sebagai sebuah adaptasi buku, arahan David Fincher ini bisa dibilang memuaskan. Tapi sebagai sebuah film, The Girl With the Dragon Tattoo bukanlah film terkuat dari Fincher maupun yang terbaik dari tahun 2011.




Bro, Underworld Awakening udah main nich dibioskop, ditunggu review-nya ya...
BalasHapusBtw, ane udah ngereview n monggo penilaian-nya atas review ane... :)
Makasih ya sudah mampir.
BalasHapus