"Goodbye 2011"
Diambil dari Spinsucks
Di tahun 2011, kegiatan menonton saya di bioskop dan festival film sangat jauh berkurang dibanding di tahun sebelumnya. Dengan kegiatan kuliah yang tak bisa ditebak dan cukup padat, saya benar-benar berusaha melapangkan dada untuk mengurangi beberapa hal yang saya sukai. Film Indonesia seperti "Sang Penari" dan "Garuda di Dadaku 2" terpaksa saya lewatkan. Sebagai gantinya, saya lebih banyak menonton DVD, terutama DVD yang saya sewa dari Subtitles. Ternyata banyak film menarik yang memperluas dan memperdalam pengetahuan saya tentang film.
2011 juga menjadi tahun dimana saya juga mengurangi aktivitas tulis menulis di Labirin Film. Saya menggantinya dengan mengikuti Workshop Penulisan Kritik Terhadap Seni dan Budaya Visual yang diadakan oleh RuangRupa. Selama 2 minggu, pola pikir saya mengenai proses dan hasil menulis tentang film benar-benar berubah. Ketika saya melihat kembali tulisan-tulisan saya di Labirin Film, saya langsung merasa malu dengan kualitas tulisan saya yang jauh dari kata 'bagus'. Selain workshop tersebut, saya juga mengikuti Scriptwriting Workshop With Joko Anwar. Dengan waktu yang singkat dan materi yang disederhanakan dari buku "Save The Cat" oleh Blake Snyder, workshop tersebut ternyata tidak terasa ditujukan untuk orang yang ingin berkarier di dunia penulisan skenario, melainkan lebih untuk membuat orang tertarik pada penulisan skenario saja.
Eksplorasi diri mungkin menjadi tema yang paling saya rasakan selama 2011. Usaha untuk menggali sedalam mungkin mengenai hubungan saya dengan film tersebut pun membuahkan tiga daftar film di bawah ini. Dari sekitar 150-an film yang saya tonton di tahun ini, mereka meninggalkan bekas yang menarik di benak saya.
Film Personal
"Banner Laffest 2011"
Diciptakan oleh Fariz Razi, pemilik blog Vampibots
Daftar dan penjelasan lengkap tentang daftar film yang satu ini sudah pernah diterbitkan sewaktu Laffest 2011 kemarin. Anda bisa melihatnya kembali di link berikut ini. Di sini, saya hanya akan mengurutkan judulnya kembali secara alfabetis, yaitu:
- 4.30 (Royston Tan)
- Chasing Amy (Kevin Smith)
- Chop Shop (Ramin Bahrani)
- Cries and Whispers (Ingmar Bergman)
- The Decalogue (Krzystof Kielowski)
- Eternal Sunshine of The Spotless Mind (Michel Gondry)
- The Fever (Carlo Gabriel Nero)
- In The Realm of The Senses (Nagisa Oshima)
- Koyaanisqatsi (Godfrey Reggio)
- Magnolia (Paul Thomas Anderson)
- Me and You and Everyone We Know (Miranda July)
- Mereka Bilang Saya Monyet! (Djenar Maessa Ayu)
- Network (Sidney Lumet)
- Opera Jawa (Garin Nugroho)
- Ordet (Carl Theodor Dreyer)
- The Piano Teacher (Michael Haneke)
- Please Give (Nicole Holocofner)
- Spring, Summer, Fall, Autumun, and... Spring (Kim Ki Duk)
- Synecdoche, New York (Charlie Kaufman)
- Taxi Zum Klo (Frank Ripploh)
- Tokyo Story (Yasujiro Ozu)
- The Tree of Life (Terrence Malick)
- The Unbearable Ligtness of Being (Philip Kaufman)
- Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (Apichatpong Weerashetakul)
- Waking Life (Richard Linklater)
Daftar film di atas masih sangat mungkin untuk berubah ke depan dan saya cukup penasaran tentang bagaimana saya memaknai sebuah film itu sangat dekat dengan diri saya nantinya. Selain 25 film di atas, ada juga film "Happiness" oleh Todd Solondz, "Lourdes" oleh Jessica Hausner, "The Future" oleh Miranda July, dan "Summer Hours" oleh Olivier Assayas yang saya rasakan dekat dengan apa yang saya rasakan dari kehidupan.
Film Erotis
"You only see what your eyes want to see," kata Madonna dalam lagu "Frozen". Ketika saya melihat adegan seks dalam film erotis, saya menantang diri saya untuk menilai unsur intrinsik yang ada untuk mencari adakah sesuatu yang menarik dari adegan tersebut. Jika dikaitkan kembali dengan apa yang Madonna katakan, maka tantanganlah yang saya lihat dari film erotis..
Di bawah ini adalah 10 film erotis terbaik yang saya tonton sejauh ini. Daftar berikut saya susun secara alfabetis:
Ryoko Asagi dalam "A Lonely Cow Weeps At Dawn"
1. A Lonely Cow Weeps At Dawn (2003, Jepang, Daisuke Goto)
Seorang pria tua kehilangan anak kesayangannya dan hanya tinggal bersama menantunya. Di tengah kondisinya yang sering sakit, seorang dokter yang mencintai susternya sendiri ingin menolongnya, putrinya yang sudah menjadi pelacur ingin menghancurkan perasaannya, dan seorang laki-laki asing ingin merebut tanahnya. Namun, Ia tak memperdulikan masalah-masalah itu. Ia hanya peduli kepada satu orang: menantunya sendiri.
2. Blind Beast (1969, Jepang, Yasuzo Masumura)
Seorang pematung terobsesi dengan tubuh dari seorang model hingga Ia menculiknya. Setelah itu, saya perlahan-lahan dibuat terkesima dengan kemampuan Yasuzo Masumura dalam mengomposisikan setiap shot dan membangun ikatan emosional dengan penonton.
3. The Cook, The Thief, His Wife, and Her Lover (1989, Inggris, Peter Greenaway)
Setiap ruang, outdoor maupun indoor, menuntut pergantian warna yang drastis dari berbagai hal. Dengan sangat mulus, Peter Greenaway menuntun penonton melewati setiap perubahan tersebut sembari sangat fokus kepada ketegasan metafora dari keadaan Inggris akan keputusan yang dibuat Margaret Thatcher pada saat itu.
4. Crash (1996, Kanada, David Cronenberg)
Karakter dalam film "Crash" yang diarahkan oleh David Cronenberg dan berdasarkan novel dari J.G. Ballard benar-benar tidak mengenal kata 'berhenti' dan 'moral'. Semakin salah dan berbahaya, mereka semakin menginginkannya. Atmosfer dingin yang dihadirkan oleh David Cronenberg semakin mengesankan bahwa mereka bertindak tanpa berpikir dan hanya mengikuti hasrat mereka.
5. Eyes Wide Shut (1999, Amerika Serikat, Stanley Kubrick)
Nuansa yang meledak-ledak seperti yang bisa kita temukan di film Stanley Kubrick lainnya tiba-tiba berubah seiring tempo "Eyes Wide Shot" yang berdiri tepat di antara lambat dan cepat. Detail dari kontrol Stanley Kubrick dalam narasi dan sinematografi film ini sangat terasa.
Lena Nyman dalam "I Am Curious: Yellow"
6. I Am Curious: Yellow (1967, Swedia, Vilgot Sjoman)
Film ini mencampur fiksi dalam fiksi dengan adanya elemen dokumenter sebagai pendekatannya. Seakan tak peduli tentang membentuk perjalanan karakter yang mengikat penonton, Vilgot Sjoman justru membiarkan para penonton film ini untuk menetapkan sendiri pilihan mereka: mengerahkan otak untuk menikmati film ini atau tidak menontonnya hingga selesai.
7. In The Realm of Senses (1976, Jepang, Nagisa Oshima)
Semua karakter "In The Realm of The Senses" yang berdasarkan kisah nyata ini telah meninggalkan apa yang ada di kepala mereka dan menggebu-gebu dengan apa yang ada di dada mereka. Sada Abe, karakter utama dalam film ini, menunjukkan apa arti cinta mati sebenarnya.
8. Last Tango In Paris (1972, Italia, Bernardo Bertolucci)
Apa pun yang membalut seks, mulai dari dendam, pembebasan diri, kesenangan, trauma atau pun cinta, Bernardo Bertolucci selalu berhasil menguncinya dengan tepat dan tidak sama sekali terasa berlebihan. Dramatisasi cerita yang selalu menyimpan spontanitas dari tingkah laku para karakternya menjadi sesuatu yang selalu menonjol dalam filmnya, terutama dalam film yang menandai puncak karirnya ini, Last Tango In Paris.
9. Lies (1999, Korea Selatan, Jang Sun-Wu)
Dua karakter utama dalam film ini suka sekali bermain. Mereka tidak menganggap serius hal-hal lainnya. Yang mereka pedulikan hanyalah mereka bisa terus bermain bersama. Dengan unsur dokumenter dalam narasi film ini, Jang Sun-Wu juga tampak bermain dengan ide membuat film erotis yang eksplisit. Semua permainan ini seakan tak akan pernah berakhir.
10. Love Exposure (2008, Jepang, Sion Sono)
Tanpa membuat ceritanya berdasarkan manga tertentu, Sion Sono justru berhasil membuat film yang sangat terasa seperti manga. Sisi erotis yang banyak mewarnai film ini pun didominasi oleh atmosfer komikal. Unik sekali!
Film Favorit
Semua film di bawah ini bisa ditonton di bioskop karena mereka ditayangkan secara reguler atau pun melalui festival film. Selain beberapa judul film Indonesia yang saya lewatkan di atas, saya juga tidak menonton beberapa film luar yang banyak dipuji, seperti "Rise of The Planet of The Apes", "Rango", dan "Warrior". Itu belum termasuk sejumlah film besar film-film yang ditayangkan di festival film. Tapi, saya tidak begitu mempermasalahkannya. Seperti di akhir tahun 2010 kemarin, saya hanya membuat daftar film favorit saya sepanjang tahun saja, bukanlah daftar film terbaik yang seringkali saya rasakan menuntut saya untuk menonton ratusan film dari berbagai belahan dunia secepat mungkin.
Tanpa basa basi lagi, inilah daftar film tersebut yang sudah saya susun secara alfabetis:
1. The American (Amerika Serikat, Anton Corbijn, diputar di 21 Cineplex)
Banyak orang yang masih rancu dengan perbedaan antara suspense dan thriller. Dengan film yang menghadirkan detail dari sebuah operasi pembunuhan dengan sudut pandang kejiwaan sang pelaku operasi itu sendiri, Anton Corbijn seakan menegaskan kembali bahwa inilah yang disebut dengan suspense dengan adanya sense of danger yang selalu menyertai, tapi tidak selalu diikuti adanya action. George Clooney yang selalu bisa meyakinkan kita dengan peran pria yang terjebak dengan pekerjaan tak lazim, ternyata menguatkan penegasan dari Anton Corbijn tersebut.
2. Another Year (Inggris, Mike Leigh, diputar di Blitzmegaplex)
Di tengah film-film yang berusaha menyindir isu sosial yang besar, Mike Leigh menusuk kondisi sosial yang jauh lebih personal dan intim dengan sangat hangat dan perlahan. Memang tidak ada yang biasa dari kehidupan orang biasa sekali pun. Yang lebih menyayat lagi adalah keakurasian Mike Leigh dalam menggambarkan kepribadian karakternya melalui sebuah adegan. Dimulai dengan adegan pembuka berupa anamnesis antara dokter dan pasien yang sangat tepat dan sesuai prosedur, kita sudah bisa merasakan keakurasian itu.
3. Biutiful (Spanyol, Alejandro Gonzalez Inarritu, diputar di Blitzmegaplex)
Film melankolis yang tidak malu atau pun ragu dengan mendayunya emosi sang karakter utama. Banyak adegan yang dipertanyakan apa kaitannya dengan kisah karakter utama tersebut. Tapi, jika pertanyaannya adalah apa yang dirasakan seorang pria yang tahu dirinya akan meninggal dalam waktu dekat, maka Alejandro Gonzalez Inarritu berhasil menggambarkan dengan mendetail manusia-manusia dan lingkungan seperti apa yang akhirnya mengelilingi ujung perjalanan hidupnya.
Celan McAuliffe (kiri) dan Madeline Carroll (kanan)
dalam "Flipped"
4. Flipped (Amerika Serikat, Rob Reiner, didistribusikan dalam bentuk DVD oleh Vision Interprima Pictures)
Banyak penulis skenario atau pun media pembelajaran skenario menganjurkan untuk berhati-hati dengan monolog yang disampaikan melalui voice-over. Kesalahan yang banyak terjadi adalah visual dari film menjadi sangat lemah dan seakan bergantung pada monolog tersebut untuk berkembang. Kesalahan seperti ini terjadi pada salah satu film Indonesia, yaitu "Poconggg Juga Pocong". Saran yang diberikan adalah untuk mengusahakan adegan tetap berbicara dengan visual dan berpikir tentang perlu atau tidaknya voice-over setelah visualnya bisa berbicara sendiri. Yang terjadi pada Flipped adalah menguatkan bahasa visual di awal sekuen sebelum akhirnya benar-benar bergantung pada voice-over pada klimaks sampai penutup dari setiap sekuen. Dengan ekspresi dan suara dari Madeline Carroll dan Cellan McAuliffe yang sangat tepat untuk kedua karakter utama, kita jadi semakin terenyuh dengan kisah cinta remaja yang manis ini.
5. Midnight In Paris (Amerika Serikat, Woody Allen, diputar di Blitzmegaplex)
Layaknya "Groundhog Day" karya Harold Ramis dimana sang karakter utama tidak dijelaskan kenapa bisa terjebak di hari yang sama, Woody Allen pun tidak menjelaskan kenapa karakter utama dari "Midnight In Paris" bisa berpindah ke tahun 1920-an setiap tengah malam. Layaknya film-film Woody Allen sebelumnya, Ia ingin penonton mendengar pemikiran dan perasaan dari setiap karakter. Yang berbeda kali ini adalah betapa romantis dan bijaknya Woody Allen dalam menyampaikan makna dibalik kisah komedi romantis yang visualnya menggugah aura nostalgia tersebut. Ia seakan hanya ingin berkata,"Masa sekarang sering tidak memuaskan dan masa depan selalu diselimuti kabut tebal, maka masa lalu pun sering sukses menggugah rasa ingin kembali ke masa itu dengan membawa kebijaksanaan dari masa sekarang."
RALAT: "Midnight In Paris" ternyata baru diputar di tahun 2012 ini.
RALAT: "Midnight In Paris" ternyata baru diputar di tahun 2012 ini.
6. Of Gods and Men (Perancis, Xavier Beaufois, diputar pada Festival Sinema Perancis)
Sembilan biarawan yang tinggal di tengah populasi Muslim Algeria merasa terancam dengan adanya Perang Saudara. Apa yang dilakukan oleh Xavier Beaufois kepada penonton yang menyaksikan kisah mereka bukanlah mengundang simpati dengan formula skenario pada umumnya. Ia menguji kesabaran dan keyakinan penonton layaknya Tuhan sedang menguji sembilan biarawan tersebut. Ketika penonton awam mengetahui bahwa kisah tersebut diambil dari kisah nyata di akhir film, mereka tenggelam bersama apa yang terjadi pada tujuh dari embilan biarawan tersebut.
Catherine Deneuve dan Gerard Depardieu
dalam "Potiche"
7. Potiche (Perancis, Francois Ozon, diputar pada Festival Sinema Perancis)
Selalu ada waktu dimana para pecinta film ingin menonton film dengan karakter kosong dan tertawa karena kekonyolan yang bodoh atau kekosongan itu sendiri. Dalam film "Potiche", Francois Ozon berhasil menyingkirkan film-film Hollywood lain yang akan mengandalkan berbagai macam ramuan yang diyakini kemanjurannya untuk memberikan hiburan ringan seperti itu. Yang terjadi adalah Ia menempatkan aktor-aktor yang sudah pasti tidak akan puas dengan 'karakter kosong' dan akan mengisinya dengan karismanya sendiri. Catherine Deneuve dan Gerard Depardieu adalah aktor-aktor tersebut. Di saat penonton terus terkunci dengan karisma mereka, Francois Ozon terus membuat plot-driven scenario film ini berhasil mengundang senyum hingga tawa.
8. Super (Amerika Serikat, James Gunn, diputar pada INAFFF 2011)
Film yang selalu berada di balik kabut "Kick-Ass" ini sebenarnya memiliki isi yang jauh lebih baik dari "Kick-Ass". Seperti di film "Elephant" oleh Gus Van Sant, bukan hanya keinginan untuk menjadi superhero atau jagoan di video game yang membuat seseorang merencanakan ingin melukai orang lain, melainkan ketidakpuasan akan kondisi di sekitarnya. Ketidakpuasan itu disadari dalam benaknya, tapi terus menerus disangkalnya sehingga berakhir dalam keputusasaan. Saat itulah, Ia berusaha mencari inspirasi untuk mendobrak kurungan dalam jiwanya. James Gunn sangat menyadari ini dan menginginkan karakter utamanya berjuang melawan ketidakpuasan tersebut, meski perjuangan itu penuh cela dan kesalahan. Ditambah dengan Ellen Page yang berakting komikal dan terlihat seakan tak mengenal teknik berakting, "Super" adalah film superhero kontemporer yang super sekali!
9. The Tree of Life (Amerika Serikat, Terrence Malick, diputar di 21 Cineplex dan Blitzmegaplex)
Melihat bahwa banyak yang menilai film ini bukan dari segi "film sebagai seni", melainkan sebagai pengingat akan masa lalu yang tampaknya serupa antara satu manusia dengan manusia lain, saya sejenak merasakan keberadaan ruang dan waktu yang menipis. Inilah film yang berbicara pada dirinya sendiri sebagaimana banyak manusia berpikir tentang kehidupan. Dari titik itu, terciptalah hubungan antara penonton dengan film ini.
Sekian kilas saya bersama film di tahun 2011. Saya juga bersyukur sekali karena masih dapat menyempatkan waktu untuk menjalankan Laffest untuk kedua kalinya dan membuat film pendek dokumenter berjudul "Nafkah dari Anjing" yang diputar pada Indonesia International Environmental Film Festival kemarin. It's been a wonderful film year for me. Goodbye, 2011!






Tidak ada komentar:
Poskan Komentar